Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Archive for Januari, 2009

TAUHID : Allah tidak dimana-mana

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tauhid sendiri ada 3 yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat.

1) Pada Tauhid Rububiyah tidak ada pertentangan antara muslimin dengan kafir Ahlul Kitab (Nashrani dan Yahudi) dan kaum musyrikin yang dimusnahkan oleh Allah dahulu kala setelah di utusnya para Rasul. Tauhid ini mengakui bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. “Allah menciptakan segala sesuatu …” (Az-Zumar: 62). Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah: Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan ter­hadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (Ibrahim: 10). Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis/atheis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena kesombongannya, namun diam-diam batinnya percaya, sewaktu mau mati saja ngomong Oh My God otomatis.

2) Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do’a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata, pokoknya hanya Allah semata tanpa ada yang kedua baik NABI -seperti JESUS oleh Nasrani dan UZAIR oleh Yahudi-, WALI -mencari wasilah dan syafaat-, KYAI n Orang2 Shalih. Kamu tidak percaya TAHAYUL, DUKUN, RAMALAN BINTANG/ZODIAK dan KHURAFAT2 lainnya.

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (WASILAH) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al ISraa 57)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat/perantara kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).(QS. Yunus 10)

Pada tauhid yang kedua inilah penamaan MUKMIN & KAFIR yaitu ULUHIYAH, maka inilah yang menjadi permusuhan kita dengan orang KAFIR dan yang menyerupai mereka. Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36).

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” (Al-Ankabut: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (men-jalankan) agama’.” (Az-Zumar: 11)

Ada keterkaitan yang erat antara RUBUBIYAH dan ULUHIYAH Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)


3) Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil(merubah) dan ta’thil(menafikan), tanpa takyif(menanyakan bagaimana), dan tamtsil(diumpamakan/ menyerupakan),berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Dalam hal tauhid inilah banyak golongan-golongan dalam islam tersesat aqidahnya dan hal inilah yang menyebabkan perpecahan bergolong-golongan dalam islam dan hal inilah permusuhan Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah. Ahlul bid’ah tidak mau merujuk kepada ulama salaf dan perkataan para imam ahlus sunnah.

Firman Allah : ..janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”(QS Ar Ruum 31-32)

Bangga dengan apa yang ada pada mereka bukannya bangga pada islam. Cth : Sufi yang ibadahnya joged2 http://www.youtube.com/watch?v=44l-Q2WY-o4 (iya apa Nabi Muhammad ngajarkan seperti ini???), Tarekat Sufi Naqsyabandi ada amalan dan cara ibadah sendiri berupa bid’ah dan bangga dgn hal itu yang berasal dari Syaikh Naqsyabandi sehingga dikatakan pengikutnya Tarekat NAqsyabandi, kemudian Qadiriyah, kemudian, SYadziliyah, kemudian Rifa’iyah, kemudian Syattariyah, kemudian Syiah, kemudian…kemudian… Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Aqidah Imam Abul HAsan Al Asy’ari di masa tuanya setelah dia bertobat dari pemikiran Mu’tazilah tertuang dalam kitabnya AL IBANAH an Ushulid Diyanah :
//s252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/th_AL_IBANAH.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.//s252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/th_Al_Ibanah_Asyari.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Arsy a’la samawat…di atas langit (langit sendiri 7 tingkat) bukan arsy meliputi langit seperti yang di maukan mu’tazilah. Hal ini dijelaskan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Beliau juga mengatakan mengapa kita berdoa dengan mengangkat tangan ke atas/ke langit. Firman Allah :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُور
“Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu…”(Al-Mulk: 16)

Benarkah Allah itu di langit??? maka kita ambil perkataan ulama yang menerangkan alquran dan assunnah. Kita ambil ulama yang terbaik/ulama salaf yang hidup pada qurun al mufadholah(kurun terbaik 0-400 H)

Qaulu al immah al arba’a (perkataan imam 4 madzhab -Hanafi, Maliki, Syafi’i,Hambali- tentang Allah bersemayam di atas Arsy)

Mukhtashor Al Uluuw karya Al Imam Syamsuddin Adz DZAHABI Asy Syafi’i yang merupakan Imam besar madzhab Syafi’i
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Mukhtashor_Al_Uluuw.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Imam Syafi’i bari’um minhu (berlepas diri dari mereka)

Inilah pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terutama dalam Tauhid Asma dan Sifat Allah, yaitu perkataan di dalam Mukhtashor Al Uluuw (hal ini sebagai hujjah/bukti kepada mereka-mereka yang ASBUN berbicara tanpa hujjah dan dalil untuk menetapkan DIMANA ALLAH sebagai pokok-pokok AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA”AH) :

1. Ulama Ahmad bin Nashir (lahir 231 H) di halaman 186 :

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Chpter3_menit3_15_AhmadNashir.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Qala Ibrahim Al Harbi fima shaha anhu qala Ahmad bin Nashr : wa su’ila an ilmullah fa qala : ilmullah ma’na wa huwa a’la arsy. Wa su’ila anil qur’an fa qala kalamullah. Fa qila lahu: makhluqun? qala : LA
Berkata Ibrahim Harbi seperti yang sudah shahih oleh Ahmad bin Nashr. Berkata Ahmad bin Nashr : Ditanya tentang ilmu Allah, maka beliau berkata : ilmu Allah bermakna Allah itu di Arsy. Dan ditanya tentang Alqur’an, beliau berkata : Alquran adalah firman Allah/Kalamullah. Ditanya apakah Alquran itu makhluk?? beliau menjawab : TIDAK/LA.

Orang yang berpendapat alquran itu makhluk adalah KAFIR karena sudah 500 ulama yang memeberikan fatwa. Ini adalah pendapat JAHM bin SHAFWAN dan pengikutnya disebut JAHMIYAH. Baca entri selengkapnya »

Posted in ISLAM | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Gedung-Gedung Tinggi di JAKARTA

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Wisma Nusantara (First High -Rise Building In Indonesia, 30 floor)

//img140.imageshack.us/img140/7301/nusantara1xa3.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.Wisma Nusantara At 1965 Baca entri selengkapnya »

Posted in UMUM | 17 Comments »

SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH (661 H – 728 H)

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Imam Adz Dzahabi berkata :“Dia lebih agung jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun-ka’bah- dan maqam maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak…-Demi Allah- bahkan dia sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” (Raddul Wafir , hal. 35)

Imam Ibnu Katsir adalah muridnya, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah adalah muridnya, Imam Adz Dzahabi adalah muridnya..lantas bagaimana keilmuan Sang Guru??

 

Hal ini dalam sains mungkin seperti si A memiliki murid 1. Albert Einstein 2. Isaac Newton 3. Rene Descartes

Tafsir Ibnu Katsir yang hampir seluruh muslimin mengetahuinya
Zadul Ma’ad (kisah lengkap tentang Nabi shalllallahu alaihi wassalam) karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
Karangan Imam Adz Dzahabi tentang biografi manusia dari zaman Nabi – zaman beliau menulis

Syaikhul Islam IBNU TAIMIYYAH -rahimahullah- (1262 M – 1328 M)

Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al Harani Adimasqi Al Hambali. Beliau adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya. Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, wilayah Suku Kurdi sekarang pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.


PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

AQIDAH BELIAU

Beliau tidaklah taklid terhadap seorang ulamapun meskipun madzhab fiqih beliau adalah madzhab Imam Ahmad bin Hambal(Hambali). Beliau menyandarkan diri kepada aqidah islam yang murni sesuai Alquran, Hadits dan pemahaman sahabat radhiyallahu anhum yaitu aqidatul salaf wa ashabul hadits. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam :

“(Wahai Fathimah) hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah dan bersabar, karena sesungguhnya sebaik-baik SALAF bagimu adalah aku.”
HR. Al-Bukhari, Shahih no.2450 (5/2317); Muslim, Shahih no. 2450

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”.
(Majmu’ Fatawa IV:149). Ucapan Syaikh, “menisbatkan diri kepadanya” maksudnya mensibatkan diri kepada madzhab salaf, dan sebutan nisbat kepada madzhab salaf adalah salafiy.

 

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia …..” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya pada Perang Ash Shaqab melawan Ghazan(-Cassano/Casinus-) Khan. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Ghazan/Qazan/Cassano/Cassinus Khan Feast

Perkatan pedas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada Qazan Khan: “Anda menyatakan bahwa Anda Muslim dan Anda memiliki muadzin, Mufti, Imam dan Shaykh , tetapi Anda menyerang kami dan masuk ke negeri kami, untuk apa ini? Meskipun ayah Anda dan kakek Anda, Hulagu Khan-orang kafir-, mereka tidak menyerang kita dan mereka memenuhi janji mereka. Tapi anda berjanji dan ingkar kepada janji Anda. “

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Beliau hidup pada zaman kemunduran islam yaitu setelah kehancuran Daulah Abbasiyah akibat diserang Mongol/Tartar. Pengaruh Tartar tidak hanya pada politik dan ekonomi saja, bahkan mencakup pola pikir dan ibadah ritual masyarakat. Pada masa tersebut perbuatan bid’ah, pemikiran filsafat, dan mantiq yang menjerumuskan masyarakat sangat berpengaruh. Ibnu Taimiyah sendiri sempat mempelajari filsafat dan mantiq yang hasil akhirnya dia berkesimpulan bahwa filsafat dan mantiq tidak boleh dipelajari umat Islam. Ibnu Taimiyah adalah pejuang pena yang banyak membimbing masyarakatnya sehingga ditakuti oleh para pemimpin yang zhalim dan bangsa Tartar. Kehidupannya penuh dengan tantangan sehingga keluar masuk penjara dan bahkan diasingkan. Beliau dipenjarakan oleh Sultan Baybar II atau Baybars Jasynakir di th 1309 M di penjara Kairo

penjara-kairo

Penjara Kairo dimana Ibnu Taimiyah dipenjarakan oleh Sultan Baybar II Jasyankir th 1309 M

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah (1) di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

“Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.”

Beliau pernah berkata dalam penjara: “ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah.

penjara-damaskus

Penjara Qal’ah di Damaskus tempat Ibnu taimiyah wafat di masa Sultan An nashir Muhammad bin Qal’awun

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayyah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Lebih dari 300.000 ribu penduduk yang mengiringi jenazahnya, bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh(salah satunya Akhnai) utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa.“ Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

“Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki tersebarnya suatu keutamaan, niscaya Dia akan mentakdirkan baginya dicerca oleh lisan orang yang hasud”

“Kalau sekiranya nyala api tidak dapat membakar segala apa yang berada di sampingnya, niscaya tidak akan diketahui harumnya bau kayu gaharu”

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin (nanti murid beliau Ibnu Katsir pun dikuburkan disamping Syaikhul Islam). Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh salaf, da’i, ahli perang, mujahid, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

(Dikutip dengan perubahan yang disesuaikan dari:: Rujukan: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah–Dimasyq.)

footnote :
(1) Penjara Qal’ah di zaman Sultan Nashiruddin Muhammad bin Qal’awun(1294-1310 M), zaman ini penuh fitnah yaitu berganti2nya Sultan Dinasti Mamluk hingga Sultan Nashiruddin Muhammad menjadi Sultan hingga 4 kali. Syaikhul Islam insya Allah turut berjihad dibawah pimpinan Sultan Syaifuddin Qal’awun Al Alfi Ash Shalih (1279-1294 M).
sumber :
http://ahlulhadist.wordpress.com/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/07/al-imam-adz-dzahabi-673-784-h/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/02/ibnu-katsir-701-774-h/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/24/syeikhul-islam-ibnu-taimiyah/
http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Nasir_Muhammad

Posted in BIOGRAFI | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

AL MASIH ISA/JESUS alaihissalam

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam…”HR Musli

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya….”(QS.An-Nisa`: 157-158

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di sini “Allah mengangkatnya kepada-Nya” menerangkan bahwa ia diangkat dengan jasad dan rohnya. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa makna: (مُتَوَفِّيْكَ) adalah “mengambilmu” yakni mengambil roh dan badanmu…Ibnu Abbas radhiallahu anhu katakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatmu kemudian mewafatkanmu di akhir zaman.” (lihat Ad-Dur Al-Mantsur, 2/36

Bahwa hadits-hadits tentang turunnya Isa bin Maryam alaihissalam sangat banyak. Bahkan para ulama menggolongkannya sebagai hadits mutawatir(banyak yang meriwayatkannya). Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri mengatakan bahwa jumlahnya mencapai lebih dari 50 hadits. Mayoritasnya shahih dan sebagian lagi hasan.

Bahwa turunnya Isa bin Maryam di akhir zaman tidaklah membawa syariat yang baru.

Tidak pula berhukum dengan Injil. Namun berhukum dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan nanti berimam kepada Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah(persis sama namanya dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berdasarkan hadits). Dan ia menjadi salah satu umat ini (seperti pada hadits-hadits yang lalu, -pent.). Baca entri selengkapnya »

Posted in HARI KIAMAT | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

AL MASIH DAJJAL

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Sebenar-benar perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam…”(HR.Muslim)

Tidak ada fitnah yang paling besar sejak diciptakan Adam sampai hari kiamat dibanding dengan fitnah Dajjal.”( H.R. Muslim )

…..Aku memperingatkan kalian darinya, tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya…” (H.R. Muslim 2930)

DAJJAL YANG SUDAH DICIPTAKAN ALLAH

Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.

Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Allah-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam (1). Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Baca entri selengkapnya »

Posted in HARI KIAMAT | Dengan kaitkata: | 7 Comments »