Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

TAUHID : Allah tidak dimana-mana

Posted by Bukit Barisan pada Januari 27, 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tauhid sendiri ada 3 yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat.

1) Pada Tauhid Rububiyah tidak ada pertentangan antara muslimin dengan kafir Ahlul Kitab (Nashrani dan Yahudi) dan kaum musyrikin yang dimusnahkan oleh Allah dahulu kala setelah di utusnya para Rasul. Tauhid ini mengakui bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. “Allah menciptakan segala sesuatu …” (Az-Zumar: 62). Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah: Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan ter­hadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (Ibrahim: 10). Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis/atheis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena kesombongannya, namun diam-diam batinnya percaya, sewaktu mau mati saja ngomong Oh My God otomatis.

2) Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do’a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata, pokoknya hanya Allah semata tanpa ada yang kedua baik NABI -seperti JESUS oleh Nasrani dan UZAIR oleh Yahudi-, WALI -mencari wasilah dan syafaat-, KYAI n Orang2 Shalih. Kamu tidak percaya TAHAYUL, DUKUN, RAMALAN BINTANG/ZODIAK dan KHURAFAT2 lainnya.

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (WASILAH) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al ISraa 57)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat/perantara kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).(QS. Yunus 10)

Pada tauhid yang kedua inilah penamaan MUKMIN & KAFIR yaitu ULUHIYAH, maka inilah yang menjadi permusuhan kita dengan orang KAFIR dan yang menyerupai mereka. Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36).

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” (Al-Ankabut: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (men-jalankan) agama’.” (Az-Zumar: 11)

Ada keterkaitan yang erat antara RUBUBIYAH dan ULUHIYAH Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)


3) Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil(merubah) dan ta’thil(menafikan), tanpa takyif(menanyakan bagaimana), dan tamtsil(diumpamakan/ menyerupakan),berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Dalam hal tauhid inilah banyak golongan-golongan dalam islam tersesat aqidahnya dan hal inilah yang menyebabkan perpecahan bergolong-golongan dalam islam dan hal inilah permusuhan Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah. Ahlul bid’ah tidak mau merujuk kepada ulama salaf dan perkataan para imam ahlus sunnah.

Firman Allah : ..janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”(QS Ar Ruum 31-32)

Bangga dengan apa yang ada pada mereka bukannya bangga pada islam. Cth : Sufi yang ibadahnya joged2 http://www.youtube.com/watch?v=44l-Q2WY-o4 (iya apa Nabi Muhammad ngajarkan seperti ini???), Tarekat Sufi Naqsyabandi ada amalan dan cara ibadah sendiri berupa bid’ah dan bangga dgn hal itu yang berasal dari Syaikh Naqsyabandi sehingga dikatakan pengikutnya Tarekat NAqsyabandi, kemudian Qadiriyah, kemudian, SYadziliyah, kemudian Rifa’iyah, kemudian Syattariyah, kemudian Syiah, kemudian…kemudian… Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Aqidah Imam Abul HAsan Al Asy’ari di masa tuanya setelah dia bertobat dari pemikiran Mu’tazilah tertuang dalam kitabnya AL IBANAH an Ushulid Diyanah :
//s252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/th_AL_IBANAH.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.//s252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/th_Al_Ibanah_Asyari.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Arsy a’la samawat…di atas langit (langit sendiri 7 tingkat) bukan arsy meliputi langit seperti yang di maukan mu’tazilah. Hal ini dijelaskan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Beliau juga mengatakan mengapa kita berdoa dengan mengangkat tangan ke atas/ke langit. Firman Allah :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُور
“Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu…”(Al-Mulk: 16)

Benarkah Allah itu di langit??? maka kita ambil perkataan ulama yang menerangkan alquran dan assunnah. Kita ambil ulama yang terbaik/ulama salaf yang hidup pada qurun al mufadholah(kurun terbaik 0-400 H)

Qaulu al immah al arba’a (perkataan imam 4 madzhab -Hanafi, Maliki, Syafi’i,Hambali- tentang Allah bersemayam di atas Arsy)

Mukhtashor Al Uluuw karya Al Imam Syamsuddin Adz DZAHABI Asy Syafi’i yang merupakan Imam besar madzhab Syafi’i
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Mukhtashor_Al_Uluuw.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Imam Syafi’i bari’um minhu (berlepas diri dari mereka)

Inilah pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terutama dalam Tauhid Asma dan Sifat Allah, yaitu perkataan di dalam Mukhtashor Al Uluuw (hal ini sebagai hujjah/bukti kepada mereka-mereka yang ASBUN berbicara tanpa hujjah dan dalil untuk menetapkan DIMANA ALLAH sebagai pokok-pokok AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA”AH) :

1. Ulama Ahmad bin Nashir (lahir 231 H) di halaman 186 :

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Chpter3_menit3_15_AhmadNashir.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Qala Ibrahim Al Harbi fima shaha anhu qala Ahmad bin Nashr : wa su’ila an ilmullah fa qala : ilmullah ma’na wa huwa a’la arsy. Wa su’ila anil qur’an fa qala kalamullah. Fa qila lahu: makhluqun? qala : LA
Berkata Ibrahim Harbi seperti yang sudah shahih oleh Ahmad bin Nashr. Berkata Ahmad bin Nashr : Ditanya tentang ilmu Allah, maka beliau berkata : ilmu Allah bermakna Allah itu di Arsy. Dan ditanya tentang Alqur’an, beliau berkata : Alquran adalah firman Allah/Kalamullah. Ditanya apakah Alquran itu makhluk?? beliau menjawab : TIDAK/LA.

Orang yang berpendapat alquran itu makhluk adalah KAFIR karena sudah 500 ulama yang memeberikan fatwa. Ini adalah pendapat JAHM bin SHAFWAN dan pengikutnya disebut JAHMIYAH.

2. Qutaibah bin Sa’id yang lahir 150 H (zaman Tabi’in)

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Qutaibah_150H_menit_5.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Hadza qoula al ‘immah fil islam wal sunnah wal jama’ah : Na’rifu rabbana fis sama’is saba’ati ‘alal arsy. Kama qola jalla jalalah : arrahmanu ‘alal arsyis tawa.
Wa kadza nuqila MUSA bin HARUN an Qutaibah anhu qola: Na’rifu rabbana fis sama’is saba’ati ‘alal arsy.
Inilah perkataan para imam-imam(maksudnya sahabat dan tabi’in karena beliau-Qutaibah- hidup di masa Tabi’in jauh sebelum Imam Al Asy’ari dilahirkan) islam dalam sunnah dan dalam jama’ah: kami tahu bahwa tuhan kami di langit yang ke tujuh di atas arsy. Sebagaimana di firmankan oleh jalla jalalah (ALLAH subhanahu wa ta’ala):Allah ber ISTIWA di atas ARSY (QS. Thaaha 5), (Al-A’raf: 54), (Yunus: 3), (Ar-Ra’d: 2), (Al-Furqan: 59), (As-Sajdah: 4), (Al-Hadid: 4)

Begitu juga di nukil dari Musa bin harun dari Qutaibah, bahwa Qutaibah berkata : kami tahu bahwa tuhan kami di langit yang ke tujuh di atas arsy.

3. Hambal bin Ishaq di hal 190:

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Hambal_bin_Ishaq_Hal190_menit6_21.png” cannot be displayed, because it contains errors.Wa qola Hambal ibni Ishaq : Qila li abi abdullah ma ma’na : wa huwa ma’akum. qola : (’ilmuhu), ‘ilmuhu muhithun bil kul. wa rabbana ‘alal ‘ARSY bila haq wa la shifah.(Akhrajahu Al LALIKA”I)

Berkata Hambal bin Ishaq : Dikatkan kepada Abi Abdullah yang maknanya: dalam alquran wa huwa ma’akum ‘aina ma kuntum. Dia berkata : yang bersama kamu adalah ilmu-Nya -tapi hakikatnya Allah berada di Arsy, yang bersama kita adalah ilmu-Nya-, ilmu-Nya meliputi segala-galanya. Dia ISTIWA (bersemayam) di atas ARSY tanpa haq dan tanpa disifatkan.(Yang mengeluarkan Imam Al LALIKA”I -beliau imam madzhab Asy Syafi’i)

4. Imam Ibnul A’rabi lahir 151 H (bukan IBNU ARABI As SUFI yang telah dikafirkan ulama)
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Ibnul_Arabi_hal194_menit_8.png” cannot be displayed, because it contains errors. Abu Abdullah Ibnul A’raby, lughawiy zamaniy (151 H – 231 H) : Ata’rifu fil lughati istiwa bima’na istaula

Abu Abdullah Ibnul ‘Arabi, ulama tafsir dan Lughah(bahasa) di zamannya: Apakah boleh dikatakan di dalam lughah Arab istiwa di artikan istaula?? Tidak boleh, karena istiwa berbeda artinya sama istaula.

Hal ini persis seperti perangai Yahudi yang suka menta’wil ayat-ayat kitab Taurat, hal inilah yang ditiru oleh kaum muslimin dari Sufi/Mu’tazilah, ayat Quran pada S. Thaaha 5 yang seharusnya berbunyi :

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Arrahmanu ‘alal arsyis tawa

ditukar/ta’wil menjadi Arrahmanu ‘alal arsys taula...

Apakah mereka kaum Mu’tazilah dan Sufi itu mirip dengan Yahudi yang merubah2 perkataan Allah ISTIWA ditambahkan huruf LAM/L menjadi ISTAULA yang artinya BERKUASA persis seperti HITHTHOH menjadi HINTHOH setelah di tambah NUN/N, QULU artinya berkatalah diganti KULU yang artinya minta, sehingga artinya MINTA GANDUM yang seharusnya “BEBASKANLAH KAMI DARI DOSA”

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُواْ هَـذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُواْ مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَداً وَادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُولُواْ حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”..(QS. Al Baqarah 58)

Lalu orang-orang yang lalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang lalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.(QS. Al Baqarah 59)

Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israel): “Diamlah di negeri ini saja (Baitulmakdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kamu kehendaki.”. Dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa kami (حِطَّةٌ) dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu”. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Al A’raaf 161)

Maka orang-orang yang lalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kelaliman mereka. (QS Al A’raaf 162)

ingatlah hadits nabi yang berbunyi : “man tasyabaha fiy qaum fahuwa minhu” yang artinya “barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuk kaum itu.” Subahanallah, Apakah tidak takut kita diancam dengan azab dari langit seperti yang ditimpakan kepada YAHUDI.

5.. Imam Bukhari lahir 194 H -Muhammad bin Isma’il Al Bukhari-
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Bukhari_AbulAliyah.png” cannot be displayed, because it contains errors.Qola Al ‘Imam Abu Abdullah Muhammad ibnu Isma’il fiy akhir al jami’us shahih (dalam kitab Shahih Bukhari) fiy kitab arraddu ‘alal Jahmiyah(bantahan kepada JAHMIYAH), 221, BAB qauluhu ta’ala : wa kana arsy ‘alal ma’ (ARSY di atas air), qola Abul Aliyah : Istawa ila sama’:Irtafaq(yang tinggi)
Wa qola Mujahid (murid sahabat nabi Ibnu Abbas) fiy Istiwa’ : ‘ala ‘alal arsy (di atas arsy)

sesuai nash quran : وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ARSY-Nya di atas air (QS Hud 7)

Inilah perkataan ulama, kalau mereka-mereka ini di tolak ya udah pake akal. Padahal quran menyuruh ilmiah (burhan) yaitu Quran, Sunnah, Atsar, Ijma’.

Ada qoul Ibnu Abbas yang boleh ta’wil padahal itu dhaif.

6. Imam Abu Zur’ah Ar Razi
Bila ada orang yang mengatakan Allah ada dimana-mana maka Laknat Allah atasnya.
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Abu_Zurah.png” cannot be displayed, because it contains errors.
7. Imam Ibnu Qutaibah

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Ibnu_Qutaibah_213H.png” cannot be displayed, because it contains errors. Allah itu bersemayam di atas arsy dan kepada-Nya dinaikkan kalimat yang baik (QS Fathir: 10) Bagaimana kalimat itu akan naik kalau Allah ada dimana-mana? begitu juga Malaikat naik kepada-Nya (QS Al-Ma’arij: 4), maksudnya klo Allah ada dimana-mana bagaimana akan naik??? mis: Allah ada di rumah, di hati, di masjid, dimana-mana, dst…
Ini menunjukkan Allah berada di atas yaitu di langit.
8. Ibnu Abi Ashim Asysyaibani
Dalam Sunah Al Kabir..Allah ISTIWA di atas ARSY, Allah turun pada 1/3 malam terakhir maka maknanya turun karena dari atas.
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Imam_Abi_Ashim297H.png” cannot be displayed, because it contains errors. Inilah hadits dan qur’an berkata, kemudian ada orang-orang yang membantah dengan akalnya yang DHAIF/lemah/Bodoh…lho gimana donk bumi khan sebagian siang dan sebagian malam maka Allah nanti turun naik donk kayak lift…(1)

Jawabnya adalah seperti jawaban Imam Malik dan Imam Tirmidzy yaitu :
Istiwa mafhum(jelas) maknanya dan turun juga mafhum maknanya namun kaifiyat(bagaimananya) adalah majhul (tidak diketahui) dan bertanya tentangnya bid’ah karena Allah tidak memberitahu bagaimana-bagaimananya?? dan lanjut Imam Malik n Imam Tirmidzy maka beriman kepadanya adalah wajib.

Karena tidak disuruh gambarkan seperti itu yang disuruh adalah kita beriman. Bagaimana akan menjelaskan sedangkan kita nggak tahu itu apa dan bagaimana Allah itu turun -nggak ada dalil dari quran dan Assunnah-???

kalau masih senang debat pakai akal, cobalah kita misalkan coba diambil beberapa orang -20 orang- , kemudian suruhlah mereka menjelaskan tentang bagaimananya PLATYPUS, maka mereka pastilah memberikan deskripsi yang berbeda-beda meskipun begitu sudah mafhum PLATYPUS adalah hewan -mungkin yang ekstrim lagi mereka nggak tahu apa itu PLATYPUS-. Itulah lemahnya akal..

9. Abu Ja’far Ibnu Abi Syaibah 297 H (Muhaddits Kufah)

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Ibnu_Abi_Syaibah_297H.png” cannot be displayed, because it contains errors. Setelah sekian banyak dalil dari Quran dan Assunnah sudah dijelaskan mengapa mereka nggak juga paham-paham. FA AINA TADZHABUN… mau kemana lagi?? klo quran sudah nggak paham terus menjelaskannya pakai apa lagi…apa mau seperti MU”TAZILAH, SUFI, JAHMIYAH yang memakai AKAL yang lemah(1)…..Mudah2an suatu masa Allah memberikan mereka hidayah..

10. Imam Muhaddits Ibnu Khuzaimah
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Ibnu_Khuzaimah1.png” cannot be displayed, because it contains errors.//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Ibnu_Khuzaimah2_fahuwakafir.png” cannot be displayed, because it contains errors.Barangsiapa yang tidak mengatakan/berikrar pada dirinya Allah Istiwa di atas ARSY maka dia KAFIR dan wajib bertobat, jika dia tobat maka selamat, jika tidak maka dipancung kepalanya -maknanya murtad-.
Hal inilah yang membuat JAHMIYAH (pendirinya JAHM bin SHAFWAN) dikafirkan lebih dari 500 ulama. Hal lain dari kesesatan Jahmiyah ini selain mengatakan Allah ada dimana-mana adalah:1. Alquran itu makhluk -padahal quran Kalamullah/firman/perkataan Allah- 2. Paham Jabbariyah yang mengatakan kita ini atas kehendak Allah semata tanpa bisa usaha apa-apa seperti daun yang ditiup angin.

(1). Akal yang sehat tidak akan menyelisihi syariat: (dikuttip dari http://www.asysyariah.com)
Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: Sesuatu yang diketahui dengan jelas oleh akal, sulit dibayangkan akan bartentangan dengan syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yang shahih tidak akan bertentangan dengan akal yang lurus, sama sekali. Saya telah memperhatikan hal itu pada kebanyakan hal yang diperselisihkan oleh manusia. Saya dapati, sesuatu yang menyelisihi nash yang shahih dan jelas adalah syubhat yang rusak dan diketahui kebatilannya dengan akal. Bahkan diketahui dengan akal kebenaran kebalikan dari hal tersebut yang sesuai dengan syariat. Kita tahu bahwa para Rasul tidak memberikan kabar dengan sesuatu yang mustahil menurut akal tapi (terkadang) mengabarkan sesuatu yang membuat akal terkesima. Para Rasul itu tidak mengabarkan sesuatu yang diketahui oleh akal sebagai sesuatu yang tidak benar namun (terkadang) akal tidak mampu untuk menjangkaunya.

Ibnul Qayyim mengatakan: “Jika dalil naqli(wahyu) bertentangan dengan akal, maka yang diambil adalah dalil naqli yang shahih dan akal itu dibuang dan ditaruh di bawah kaki, tempatkan di mana Allah meletakkannya dan menempatkan para pemiliknya.” (Mukhtashar As-Shawa’iq, hal. 82-83 dinukil dari Mauqif Al-Madrasah Al-‘Aqliyyah, 1/61-63)

Seperti dikatakan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab: “Wahai manusia, curigailah akal kalian terhadap agama ini.” (Riwayat Ath-Thabrani, lihat Marwiyyat Ghazwah Al-Hudaibiyyah, hal. 177, 301)
Beliau mengatakan demikian karena pernah membantah keputusan Nabi shallalahu alaihi wassalam dengan pendapatnya, walaupun pada akhirnya tunduk. Beliau pada akhirnya melihat ternyata maslahat dari keputusan Nabi shallalahu alaihi wassalam begitu besar dan tidak terjangkau oleh pikirannya.

Oleh karenanya, akal diperintahkan untuk pasrah dan mengamalkan perintah syariat meskipun ia tidak mengetahui hikmah di balik perintah itu. Karena, tidak semua hikmah dan sebab di balik hukum syariat bisa manusia ketahui. Yang terjadi, justru terlalu banyak hal yang tidak manusia ketahui sehingga akal wajib tunduk kepada syariat.

Sesungguhnya pertentangan akal dengan syariat takkan terjadi manakala dalilnya shahih dan akalnya sehat. Namun terkadang muncul ketidakcocokan akal dengan dalil walaupun dalilnya shahih. Kalau terjadi hal demikian maka jangan salahkan dalil, namun curigailah akal. Di mana bisa jadi akal tidak memahami maksud dari dalil tersebut atau akal itu tidak mampu memahami masalah yang sedang dibahas dengan benar. Sedangkan dalil, maka pasti benarnya karena dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

to be continue..

sumber :
Lum’atul I’tiqad karya Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi. Penerbit Pustaka Sumayah
Mukhtashor Al Uluuw karya Imam ADZ DZAHABI
AL IBANAH karya Imam Abul Hasan Al ASY’ARI
KITABUT TAUHID karya DR. Shalih Fauzan Al Fauzan
http://www.asysyariah.com
Rasuldahri.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: