Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Husnul Khatimah

Posted by Bukit Barisan pada Mei 13, 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah yang kami memuji-Nya, kami memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, yang kita berlindung dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya. Saya bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk disembah melainkan Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya. (Pembuka Khutbah)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imraan 102)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.(QS An Nisaa 1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al Ahzaab 70-71)

Amma ba’du

Sesungguhnya sebenar-benar kalam adalah Kalam Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam Sedangkan seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang muhdats (mengada-ada dalam agama) dan tiap-tiap muhdats itu Bid’ah dan tiap kebid’ahan itu sesat. Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka. (HR. An Nasa’i)

BAB VIII Tanda-tanda Husnul Khatimah (1)

1.Mengucapkan syahadat pada saat meninggal dunia
2.Mengalirnya keringat di dahi
3.Meninggal dunia pada malam Juma’at atau siang hari Jum’at
4.Mati syahid di medan jihad
5.Mati ketika perang di jalan Allah

6.Mati karena sakit Tha’un. ” Penyakit tha’un sebagai penyebab kematian syahid bagi setiap muslim”(HR. Bukhari)
7.Mati yang disebabkan sakit perut
8.Mati karena tertimpa reruntuhan
9.Mati karena tenggelam.
”Para syuhada itu ada lima kelompok: orang yang sakit tha’un, orang yang sakit perut, orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati syahid di jalan Allah.(HR. Bukhari VI/33-34)

10.Seorang wanita yang meninggal dunia semasa menjalani masa nifasnya atau disebabkan oleh melahirkan.
11.Mati karena Terbakar
12.Mati karena Tumor/Kanker
13.Mati karena Sakit As Sillu/TBC
14.Mati karena mempertahankan harta yang akan dirampok
15.Mati karena mempertahankan agama
16.Mati karena mempertahankan jiwa
17.Mati karena berjaga di tapal batas di jalan Allah dalam rangka mempertahankan daulah muslimin.
18.Mati dalam keadaan berbuat amal shalih

Hal diatas adalah penyebab seseorang mati syahid, namun perlu diperjelas lagi bahwa hal ini belum tentu yang mati dengan hal tersebut di atas memang benar-benar mati syahid. Kita hanya dapat menghukumi perbuatan dan zhahirnya saja adapun ucapan syahid kepada perorangan adalah tidak dibolehkan menurut syariat ini, karena kalau kita menyebut syahid berarti menegaskan bahwa orang tersebut masuk surga. Hal ini berlaku juga kebalikannya terhadap kaum muslimin yang melakukan dosa besar. Mereka dihukumi secara umum dan zhahir melakukan dosa besar namun tidak boleh secara khusus mengatakan mereka masuk neraka. Apabila dikhususkan maka itu butuh dalil dan hujah dari Quran dan As Sunnah.

Asy Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Ibnu Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjawab pertanyaan tentang hukum mengatakan si Fulan syahid bahwa : “Mengatakan seseorang itu syahid dapat ditinjau dari 2 sisi :

Pertama : Hendaknya terikat dengan suatu sifat, seperti: Dikatakan bahwa setiap orang yang dibunuh fisabillah adalah syahid, orang yang dibunuh karena membela hartanya adalah syahid, orang yang mati karena penyakit thaun adalah syahid dan yang semacamnya. Ini adalah boleh sebagai mana yang terdapat dalam nash, dan karena kamu menyaksikan dengan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang kami maksud boleh adalah tidak dilarang. Jika menyaksikan hal itu, maka wajiblah membenarkan khabar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua : Apabila dikaitkan dengan orang tertentu seperti mengatakan si fulan syahid. Maka hal ini tidak diperbolehkan, kecuali kepada orang yang telah dipersaksikan (ditetapkan) oleh Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia syahid atau umat telah bersepakat atas kesyahidannya

Imam Bukhari rahimahullah berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman. 90, yaitu : Tidak Memvonis Syahid Kecuali Ada Wahyu. Seakan dia mengisyaratkan hadits Umar, bahwa beliau berkhutbah. “Dalam peperangan, kalian mengatakan bahwa si Fulan Syahid, dan si Fulan telah mati syahid. Mudah-mudahan perjalanannya tenang. Ketahuilah, janganlah kalian berkata demikian, akan tetapi katakanlah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa mati di jalan Allah atau terbunuh maka ia syahid”. Ini adalah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Sa’id bin Manshur dan lainnya dari jalur Muhammad bin Sirrin dan Abi Al-A’jafa’ dari Umar.


Contohnya seperti ini :
Para Ulama Ahlus Sunnah bersepakat (Ijma’) bahwa yang mengatakan alquran itu makhluk maka dia kafir (Imam Ahmad dalam Ushulus Sunnah) karena alquran kalamullah (perkataan Allah), kemudian ada seorang tokoh mengatakan alquran adalah makhluk, maka kita katakan bahwa a)“siapa yang mengatakan alquran makhluk adalah kafir” dan sangat berbeda kalau redaksinya seperti ini b)Si Fulan kafir karena mengucapkan kalimat alquran adalah makhluk”. Ucapan a secara global/umum dan tidak mengandung vonis namun yang kedua/b mengandung vonis kafir(tidak boleh sembarangan mengkafirkan). Atau seperti redaksi hadits yang mengatakan setiap bid’ah adalah sesat dan kesesatan di dalam neraka (HR AN Nasa’i), maka belum tentu orang yang melakukannya masuk neraka (tergantung rahmat dan karunia Allah semata) walaupun secara zhahir hal itu perbuatan tercela dan mendatangkan murka Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang melakukan bid’ah kita katakan kepada mereka “setiap bid’ah ada dalam neraka” bukan mengatakan “kamu masuk neraka karena melakukan bid’ah”. Contoh ketiga Si Fulan mati dibunuh dalam jihad, maka kita katakan “siapa yang mati dibunuh di jalan Allah maka dia mati syahid” bukan “Asy Syahid Fulan” atau “Si Fulan Syahid.

“mungkin karena jaman sekarang kekurangan teladan mulia seperti dulu, jadi untuk menutupinya kekurangan itu dibuatlah panggilan atau julukan yang berlebihan….”
“Kalau begitu bagaimana dengan gelar-gelar “Rahimahullah”….”hafidzahullah”…”Asy Syaikh Al Muhaddits”….”Al Imam Al ‘Allamah Al Faqihul”….”Al Fadhilatus”…”Asy Syaikh Al ‘Allamah Al Mufaqqih” ??
Istilah-istilah tersebut adalah doa pengharapan (roja’) dan optimisme (tafa’ul) terhadap seorang muslim dan bukanlah khabar (pemberitaan) (sebagaimana Asy Syahid). Berikut ucapan Syaikh Bin Baz rahimahullah.

Asy Syaikh Bin Baz-rahimahullah- berkata(2) : “Ungkapan yang disyariatkan dalam kasus ini adalah Ghafarallahu (semoga Allah mengampuninya) atau Rahimahullah (semoga Allah merahmatinya) dan semisal itu bila dia (orang yang meninggal dunia tersebut) seorang Muslim dan tidak boleh diucapkan al-maghfurlahu atau al-marhum (B.Arab) karena tidak boleh bersaksi terhadap orang tertentu bahwa dia masuk surga, masuk neraka atau semisalnya kecuali orang yang memang sudah dipersaksikan Allah dengan hal itu di dalam KitabNya yang mulia atau orang yang telah dipersaksikan oleh RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia masuk surga seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Kahtthab, Utsman bin Affan, Ali dan para sahabat lainnya yang termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga dan selain mereka yang telah dipersaksikan beliau masuk surga seperti Abdullah bin Salam, Ukasyah bin Mihsan Radhiyallahu ‘anhum, ataupun orang yang dipersaksikan beliau masuk neraka seperti Abu Thalib, Amr bin Luhay Al-Khuza’i dan selain keduanya yang telah dipersaksikan beliau masuk neraka -na’udzubillahi min dzalik-. Jadi, kita bersaksi atas hal itu.

Sedangkan orang yang belum dipersaksikan Allah ataupun Rasul-Nya masuk surga atau neraka, maka kita tidak bersaksi atasnya terhadap hal tersebut dengan menentukan orangnya. Demikian juga, kita tidak bersaksi terhadap seseorang tertentu mendapatkan ampunan (maghfirah) atau rahmat kecuali berdasarkan nash Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.

Akan tetapi Ahlus Sunnah berharap baik bagi orang yang berbuat baik dan khawatir terhadap nasib orang yang berbuat keburukan dan bersaksi atas ahli iman secara umum bahwa mereka masuk surga dan orang-orang kafir masuk neraka sebagaimana hal itu telah dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab-Nya.
وَعَدَ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
Artinya : “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya”. [At-Taubah : 72]

Imam Bukhari membuat bab tersendiri dalam kitab Shahiihnya (VI/89): Bab ”Laa Yaquulu: Fulan Syahiid (Bab: Tidak boleh mengatakan si fulan syahid).” Dan hal tersebut termasuk yang diremehkan oleh banyak orang, dimana mereka seringkali mengatakan : ”Asy-Syahiid Fulan…Asy Syahid Tuan A….Asy Syahid Mr X….

Al-Imam Al Bukhari rahimahullah menerangkan tentang ini dalam kitab shahihnya pada sebuah bab yang berjudul “Tidak Boleh Mengatakan Si fulan Syahid”. Lantas beliau memaparkan hadits tentang seseorang yang berperang bersama Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam melawan orang-orang musyrik dengan hebatnya sehingga orang-orang banyak yang memujinya. Tetapi Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Dia adalah penghuni neraka”. Apa sebabnya Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian ? Sahabat laki-laki tadi berkata kepada Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika laki-laki ini terluka parah dalam peperangan, ternyata dia tidak tahan terhadap sakitnya dan ingin segera mati. Maka dia menancapkan pedang ke tanah dan ujung pedang diletakkan pada ulu hatinya. Hingga dia menusukkan pedang tadi dan membunuh dirinya sendiri. Kemudian Rasululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengamalkan amalan penduduk surga menurut penglihatan manusia padahal dia termasuk penduduk neraka. Dan sesungguhnya seseorang itu benar-benar mengamalkan amalan penduduk neraka menurut penglihatan manusia padahal dia termasuk penduduk surga.” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu itu kita tidak boleh memastikan setiap orang yang meninggal ketika berperang atau berjihad melawan orang-orang kafir sebagai syahid, namun kita tetap memberikan hukum zhahir baginya yaitu dia dikubur tanpa dimandikan, tanpa dikafani (dikubur bersama darah dan bajunya), tanpa disholati. Dan inilah sikap pertengahan yang berada diantara sikap berlebihan terhadapnya (dengan menyebut sebagai syahid) dan sikap buruk sangka terhadapnya. Dan sikap yang paling baik adalah agar kita selalu mendoakan orang-orang yang gugur dalam berjihad di jalan Alloh agar termasuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan syahid.

wallahu a’lam

Sumber :

1. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Terjemah Ahkaamul Janaiz wa Bida’uha(Hukum Jenazah dan Bid’ah yang menyertainya), Penerbit Pustaka Imam Asy Syafi’i, hal 97-11

2.Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Juz V, Hal. 365-366 dari Fatwa Asy Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah

Satu Tanggapan to “Husnul Khatimah”

  1. semoga kita termasuk golongan orang yang mati khusnul khotimah. amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: