Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

BILA MAYORITAS MENJADI TOLOK UKUR

Posted by Bukit Barisan pada Agustus 21, 2009

Bismillah,

Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas.

Apa Itu Hukum Mayoritas ?
Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan ini adalah suatu ketetapan hukum di mana jumlah mayoritas merupakan patokan kebenaran dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun ternyata bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Bahkan sebaliknya berkoar-koar bahwa ”Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”.
Sejauh manakah keabsahan hukum mayoritas ini? Untuk mengetahui jawabannya, perlu ditelusuri terlebih dahulu oknumnya (pengusungnya), yang dalam hal ini adalah manusia, baik tentang hakekat jati dirinya, sikapnya terhadap para rasul, atau pun keadaan mayoritas dari mereka, menurut kacamata syari’at. Karena dengan diketahui keadaan oknum mayoritas/kebanyakan/katsiir, maka akan diketahui pula sejauh mana keabsahan hukum tersebut.

Saudaraku –yang semoga dirahmati ALLAH-, tahukah engkau, bahwa:

  • 1)Kebanyakan manusia tidak mengetahui (-tentang kebenaran-).

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

(Artinya: ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.) (Al A’raf: 187)

  • 2)Kebanyakan manusia lalai dari mengingat ALLAH.

ALLAH Subhaanahu wa ta’ala sendiri yang menyatakan demikian:

وَإِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

(Artinya:..dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia itu lengah terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami.) (Yunus: 92)

  • 3)Kebanyakan manusia tidak bersyukur.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbaqai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ

(Artinya: ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.)(AlBaqarah:243)

  • 4)Kebanyakan manusia itu fasik.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

وَإِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُون

(Artinya: Dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu benar-benar fasiq.) (Al Maa’idah: 49)

  • 5)Kebanyakan manusia mengingkari dan tidak menyukai Al Qur’an.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُوراً

(Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia -di dalam Al Qur’an ini- tiap-tiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukainya selain mengingkari.) (Al Isra’:89)

  • 6)Kebanyakan manusia itu mengingkari perjumpaan dengan Rabb-nya.

ALLAH Subhaanahu w ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian:

وَإِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ

(Artinya: Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar- benar ingkar akan pertemuan dengan rabb-nya.) (Ar-Ruum:8)

  • 7)Kebanyakan manusia tidak beriman.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ

(Artinya: …akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.) (Hud: 17)

  • 8)Kebanyakan manusia tidak memenuhi janji(tidak amanah).


(وَمَا وَجَدْنَا ِلأَ كْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقُوْنَ)

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (Al-A’raaf: 102)

  • ·9) Menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka.

(وَإِنَّ كَثِيْرًا لَّيُضِلُّوْنَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ)

“Sesungguhnya mayoritas (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.” (Al-An’aam: 119)

  • 10) Tidak mengetahui agama yang lurus.

(ذلِكَ الدِّيْنُ القَيِّمُ وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ)

“Itulah agama yang lurus, tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

  • 11) Penghuni Jahannam.

(وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ)

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam mayoritas dari jin dan manusia.” (Al-A’raaf: 179)

***

Sebaliknya, saudaraku –yang semoga dirahmati ALLAH– , tahukah engkau, bahwa:

  • Sedikit (qoliil) sekali manusia yang mau mengambil pelajaran.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ

(Artinya: …sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.) (Al A’raf: 3)

  • Sedikit sekali manusia yang bersyukur.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

(Artinya: Dan sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.) ( Saba ’:13)

  • Sedikit sekali manusia yang mengingat ALLAH.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ

(Artinya: Amatlah sedikit kalian mengingat (-Nya-)) (An-Naml:62)

  • Sedikit sekali manusia yang beriman kepada Al Qur’an.

ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sendiri yang menyatakan demikian, di dalam berbagai kesempatan dan ungkapan. Satu di antaranya:

قَلِيلاً مَا تُؤْمِنُونَ

(Artinya: Sedikit sekali kalian beriman kepadanya.) ( Al Haaqqah:41)

Saudaraku –yang semoga dirahmati ALLAH-.

Sungguh jelas tentunya -bagi engkau- seluruh ungkapan di atas. Bahwa tidaklah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengungkapkan berbagai wujud keburukan, kecuali Dia jelaskan pula akan banyaknya. Dan tidaklah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa mengungkapkan berbagai wujud kebaikan, kecuali Dia jelaskan pula akan sedikitnya. Di mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimana pun selalu saja yang jelek lebih banyak ketimbang yang baik, atau yang baik selalu saja lebih sedikit ketimbang yang buruk.

Ya, alangkah banyaknya manusia yang tak mengenal dan mengetahui kebenaran, yang lalai mengingat ALLAH, yang tidak pandai bersyukur, yang mengingkari Al Qur’an, yang mengingkari perjumpaan dengan rabb-nya, dan yang tidak beriman. Dan alangkah sedikitnya manusia yang mampu mengambil pelajaran, yang bersyukur kepada ALLAH, yang senantiasa mengingat ALLAH, dan yang beriman kepada Al Qur’an.

Lantas, mantera apa yang telah menyihir kesadaran kita sehingga menjadi tergila-gila kepada segala yang banyak, sedangkan kita tahu yang baik itu justru sedikit? Ya, aku katakan: “mantera yang menyihir“, karena bahasanya yang sulit dimengerti namun efeknya yang membius.

Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang pengikut para nabi yang berjumlah sedikit atau tidak ada sama sekali .

Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab……. (HR. Al Bukhari no: 5705, 5752, dan Muslim no:220, dari hadits Abdullah bin Abbas).

Hanya mereka yang dirahmati ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sajalah yang mau mengambil peringatan ini:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّه

(Artinya: Seandainya kalian mengikuti kebanyakan/mayoritas orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan-ALLAH.) (Al An’aam: 116)



Sumber : rumahbelajaribnuabbas.wordpress.com

asysyariah.com


Satu Tanggapan to “BILA MAYORITAS MENJADI TOLOK UKUR”

  1. hukum mayoritas yo kuwi DEMOKRASI. kalo semua orang indonesia setuju maksiat, yo dilaksanakan tuh maksiat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: