Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Kisah Sejelek- Jelek Mayat di Kolong Langit

Posted by Bukit Barisan pada Oktober 23, 2009

Bismillah,

Syarru Qatla Tahta Ahdimis Sama’ (Sejelek2 yang terbunuh/mayat di Kolong Langit)
Kilabun ahlin Naar (Anjing-Anjing Neraka)

..Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum ‘Aad(kaum Nabi Hud alaihissalam).-hadits yg menerangkan tuntunan nabi untuk memberantas khawarij si teroris-

________________________________________________________________________________
Pembunuhan demi pembunuhan, pengeboman demi pengeboman telah merenggut nyawa pihak-pihak yang tidak sepantasnya dibunuh. Berbagai jaringan radikal berpaham Khawarij terus melancarkan terorisme dengan mengatasnamakan jihad dan perjuangan membela islam. Berbagai syubhat mereka tebarkan, sehingga tidak sedikit putra-putri kaum muslimin mengira bahwa itu adalah tindakan legal dan dibenarkan secara syar’i. tanpa disadari akhirnya mereka terlibat dalam berbagai jaringan yang mengatasnamakan islam tersebut.

Para orang tua dan para pendidik semakin merasa khawatir terhadap diri dan putra-putri mereka, keamanan masyarakat pun semakin tidak menentu, nama islam dan kaum muslimin ikut tercoreng. Semua itu terjadi dalam keadaan berbagai kalangan kebingungan mencari jalan keluar dari permasalahan yang mereka khawatirkan itu.

Khawarij berasal dari kata khuruj yang artinya memberontak. Mereka adalah satu kelompok yang menjadikan pemberontakan terhadap para penguasa sebagai agamanya. Mereka mengkafirkan kaum muslimin dengan dosa-dosa besar, khususnya terhadap para penguasa. Kemudian menghalalkan darah mereka sebagai jembatan untuk menghalalkan pemberontakan terhadap mereka. Mereka adalah kaum reaksioner yang berjalan dengan emosinya tanpa didasari ilmu.

Atas dasar itulah mereka berduyun-duyun datang ke Madinah dari Mesir, Kuffah dan Basrah menuju rumah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menuntut diturunkannya beliau dari Khilafah.

Jika manusia terbaik setelah Abu Bakar dan Umar dituduh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), maka bagaimana mereka akan puas dengan khalifah-khalifah setelahnya, terlebih lagi pemimpin kaum muslim pada zaman kita ini. Dengan kata lain mereka akan tetap tidak pernah puas terhadap pemimpin manapun sampai akhir zaman. Dan mereka akan terus hidup memberontak, membunuh dan menteror kaum muslimin.

Sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap seorang yang shalih dan keluarganya yaitu Abdullah -anak dari shahabat Khabbab bin Arat radhiallahu ‘anhu. Mereka membantainya, merobek perut istrinya dan mengeluarkan janinnya. Setelah itu dalam keadaan pedang masih berlumuran darah, mereka mendatangi kebun kurma milik seorang Yahudi. Pemilik kebun ketakutan seraya berkata: “Ambillah seluruhnya apa yang kalian mau!” Pimpinan khawarij itu menjawab dengan arif: “Kami tidak akan mengambilnya kecuali dengan membayar harganya”. (Lihat al-Milal wan Nihal karya Asy Syahrastani)

Hal ini sangat aneh, terhadap nyawa seorang muslim yang lebih berharga mereka abaikan –sampai ada hadits(dalam Sunan An Nasa’i, dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu) yg mengatakan runtuhnya dunia di sisi Allah lebih ringan daripada membunuh seorang muslim-, namun hanya memakan beberapa butir kurma haram mereka sangat ketakutan???

Hal ini sesuai hadits nabi bahwa kaum khawarij tersebut tidaklah muncul hanya pada satu waktu tertentu saja. Bahkan mereka akan terus muncul dalam zaman yang banyak sekali hingga hari kiamat.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Ibnu ’Umar bahwa Rasulullah bersabda:
يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ –قَالَ ابْنُ عُمَرَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: (( كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ )) أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ مَرَّةً –حَتَّى يَخْرُجَ فِي عِرَاضِهِمْ الدَّجَّال
ُ“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur‘an namun bacaan tersebut tidak melewati kerongkongannya. Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas.” Ibnu ’Umar berkata: ‘Saya mendengar Rasulullah mengulang kalimat: “Setiap kali muncul sekelompok dari mereka pasti tertumpas” lebih dari 20 x.’ Kemudian beliau berkata: “Hingga muncullah Ad-Dajjal dalam barisan pasukan mereka.” [HR. Ibnu Majah]

Kita tidak berbicara tentang masa lalu yang sudah berakhir ceritanya. Akan tetapi kita berbicara tentang manhaj khawarij yang masih tetap ada di masa kita ini, meskipun dengan berbagai macam nama dan identitas yang berbeda seperti NII, LDII, Jama’ah Islamiyah (JI), Lembaga Kerasulan (LK) dll yang sejenis berpemahaman pengkafiran terhadap sesama muslim.

Biasanya dalil2 yang mereka bawakan untuk mengelabui orang awam adalah yang pertama:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Al Maidah 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zholim. (QS Al Maidah 45)

Jadi kita yang hidup di dalam Negara Pancasila adalah kafir menurut mereka karena tidak menerapkan hukum islam –padahal kita terpaksa dan tidak meyakini sedikitpun bahwa Pancasila lebih baik dari hukum islam-. Penjelasan tafsir ayat di atas lebih baik mengacu pada ulama bukan kemauan kelompok (1)

Syubhat/kerancuan khawarij berikutnya –kedua- adalah BAI’AT, mereka menganggap kelompok atau organisasinya sebagai ‘al-Jama’ah’. Mereka menganggap pimpinan kelompoknya sebagai ‘imam’ yang harus dibaiat dan ditaati. Setelah itu mereka membawakan dalil-dalil dari hadits-hadits tentang wajibnya berpegang teguh dengan jama’ah, wajibnya taat kepada imam dan halalnya darah orang yang melepaskan diri dari baiat. Seperti dalam hadits berikut:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةَ، وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ، ثُمَّ مَاتَ، مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah(2), kemudian mati, maka matinya merupakan mati jahiliyah. (HR. Muslim)

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا، فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Barang siapa yang tidak suka dari penguasanya suatu perkara maka bersabarlah, karena tidaklah seorang keluar dari ketaatan pada penguasanya (3) (memberontak) sejengkal saja, kemudian ia mati maka matinya mati jahiliyah. (HR. Bukhari)

Padahal yang dimaksud dengan imam adalah bukan pimpinan partai/organisasi atau kelompok tertentu, baik mereka yang bergerak di bawah tanah (rahasia) atau yang terang-terangan dan tidak ada kemampuan untuk menghukum orang. Tetapi yang dimaksud adalah para penguasa yang benar-benar memiliki kekuasaan di wilayahnya, sehingga dia bisa memerintah, melarang, mengatur dan menghukumi.(4)


MENCELA PEMERINTAH SECARA TERANG-TERANGAN TERMASUK MODEL KHAWARIJ

Termasuk model-model khawarij adalah mencela penguasa (pemerintah) di depan khalayak dan ini merupakan langkah awal yang dilakukan khawarij yaitu dengan menyebarkan kesalahan-kesalahan dan aib-aib pemerintah di atas mimbar-mimbar yang ujung dari hal ini yang tidak bisa dihindarkan lagi adalah memberontak terhadap pemerintah. Bahkan pada sebagian orang menganggap demo adalah jihad..masya Allah…beginilah klo melakukan sesuatu tanpa dibimbing ilmu, suatu perkara yang besar di dalam islam disamakan dengan perkara yang nggak jelas.

Abdullah bin Abi ‘Aufa berkata kepada Said bin Jumhan : ”……. jikalau penguasa mau mendengar perkataanmu maka datangilah ia di rumahnya (maksudnya secara 4 mata jangan terang2an di depan khalayak ramai) dan kabarkanlah kepadanya apa yang engkau ketahui, jika ia menerima perkataanmu (maka itu yang diharapkan), dan jika tidak maka tinggalkanlah ia, sesungguhnya engkau tidak lebih tahu ketimbang dirinya”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/382-383 dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Zilalul Jannah hal 508)

عن علقمة بن وائل الحضرمي عن أبيه قال سأل سلمة بن يزيد الجعفي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يَا نَبِيَّ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أمَرَاءُ يَسْأَلُوْنَا حَقَّهمْ وَيَمْنَعُوْنَا حَقَّنَا فَمَا تَأْمُرُنَا فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ فَجَذَبَه اْلأَشْعَثُ بْنِ قَيْسِ وَقَالَ اسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهمْ مَا حَمَلُوْا وَعَلَيْكُمْ مَا حَمَلْتُمْ
Dari ‘Alqamah bin Wail Al-Hadlrami dari ayahnya ia berkata : Salamah bin Yazid Al-Ju’fiy pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Nabiyullah, bagaimana pendapatmu jika kami punya pemimpin yang menuntut pemenuhan atas hak mereka dan menahan (tidak menunaikan) hak kami. Apa yang engkau perintahkan kepada kami ?”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpaling darinya, dan Salamah kembali mengulangi pertanyaannya. Dan hal itu berulang hingga dua atau tiga kali. Kemudian Al-Asy’ats bin Qais menariknya (Salamah). Dan akhirnya beliau menjawab : “(Hendaklah kalian) mendengar dan taat kepada mereka. Karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat dan atas kalian apa yang kalian perbuat” [HR. Muslim no. 1846].

–maksudnya dosa pemerintah utk mereka sendiri sedangkan kita disuruh utk tetap taat dalam perkara ma’ruf bukan maksiat, sesuai sabda nabi:

….Apabila ia(penguasa) menyuruh untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat” [HR. Al-Bukhari no. 2955,7144; Muslim no. 1839; Tirmidzi no. 1707; Ibnu Majah no. 2864]
Tidak boleh bagi kita dengan mengatasnamakan amar ma’ruf nahi munkar untuk menjelek-jelekkan penguasa di muka umum, seperti mengatakan kalimat-kalimat provokatif : Penguasa kita ini adalah penguasa yang korup; Penguasa kita dan kabinetnya telah terpengaruh pada ide-ide kafir; Kebijakan penguasa kita telah membuat rakyat sengsara; Para pemimpin kita telah menyia-nyiakan amanat ; dan yang semisalnya. Pernyataan-pernyataan seperti itu (walau dengan alasan nasihat dan amar ma’ruf nahi munkar) akan menimbulkan fitnah yang besar. Antara pemimpin dan rakyat semakin terbuka jurang pemisah. Tuntutan syari’at untuk mendengar dan taat pada perkara yang mubah dan ma’ruf pun akhirnya ditinggalkan karena kebencian mereka terhadap para pemimpin. Apabila itu berlanjut, api fitnah semakin menyala-nyala, diangkatlah senjata, dan akhirnya tumpahlah darah. Imbasnya pula, muncullah kelompok-kelompok sempalan yang mengkafirkan negeri-negeri Islam, para penguasa muslim, dan bahkan kaum muslimin secara umum. Ini bukanlah prediksi fiktif tanpa bukti…..
Sabda Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam Tentang KHAWARIJ

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa:
Khawarij adalah Anjing-Anjing Neraka (HR Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Dlilalul Jannah)

Diriwayatkan dari Abu Ghalib bahwa ia berkata: “Pada saat aku berada di Damaskus. Tiba-tiba didatangkanlah tujuh puluh kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah (khawarij) dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah radhiallahu ‘anhu-sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam- dan masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, dan keluar dan menghadap kepala-kepala tadi dengan meneteskan air mata. Beliau memandangnya beberapa saat seraya berkata: “Apa yang dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?” (tiga kali diucapkan). Dan beliau berkata lagi: “Anjing-anjing neraka” (juga tiga kali diucapkan). Kemudian beliau berkata:
“Mereka sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik mayat adalah orang yang dibunuh olehnya.”
(tiga kali). (Hadits hasan diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah hal. 156; lihat takhirjnya secara rinci dalam al-Wardul Waqthuf oleh syaikh Abu Abdirrahman Fauzi al-Atsari hal. 95)

Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini satu kaum; yang membaca al-Qur’an, namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum ‘Aad.(HR. Bukhari Muslim)

Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, salah seorang di antara kalian akan merasa kalah shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka; puasanya dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari buruannya.. (HR. al-Ajurri, Lihat asy-Syari’ah, hal. 33)
Subhanallah, sahabat saja kalah dalam hal ibadah namun aqidah rusak apa gunanya???
Betapa indahnya perkataan Hudzaifah ibnul Yaman :
“Dahulu manusia (para shahabat) bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan. Sementara aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir kejahatan tersebut datang menemuiku.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Oleh karena itu, kenalilah bahaya paham Khawarij, sifat dan cara mereka menebarkan berbagai syubuhatnya, dalam rangka menyelamatkan diri dan putra-putri kita darinya. Bersegeralah…! Sebelum putra-putri dan anak didik kita terseret oleh keganasan paham radikal Khawarij. Semoga Allah melindungi kita semua. Amin.
sumber :

Sejarah Hitam Khawarij karya Syaikh DR Nashir bin Abdul Karim Al “Aql
Terjemah Fatwa2 ttg Fitnah Takfir karya Syaikh Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin
an-nashihah.com
jihadbukankenistaan.com
abul-jauzaa.blogspot.com

Note :
1. Oleh karena itu perlu dilihat dengan teliti tafsir ayat di atas menurut para shahabat dan para Ulama setelahnya. Agar jangan kita menyimpang dari jalan mereka dan melenceng dari apa yang dimaukan oleh Allah dengan ayat tersebut. Apakah mereka menolak hukum Allah karena membenci dari lubuk hati yg paling dalam, tidak tahu, atau tahu tapi tidak mau melaksanakannya? karena masing-masing memiliki hukum sendiri-sendiri.

Syaikh al-Albani dalam kitabnya Fitnatut Takfir wal Hakimiyah, hal. 31. menukilkan ucapan Ibnu Abbas: “Yang dimaksud kafir pada ayat ini adalah kufrun duna kufrin (kafir yang tidak mengeluarkan dari Islam)”.
Dalam riwayat lain disebutkan ketika seseorang menyampaikan ayat ini kepada Ibnu Abbas, beliau menyatakan: “Jika dia melakukan demikian, maka dia telah berbuat kekufuran, tetapi bukan seperti kafir kepada Allah dan hari akhir”. (Riwayat ath-Thabari, juz 6, hal. 256)
Dalam riwayat lain, beliau menyatakan: “Itu adalah kekufuran, tapi bukan kekufuran kepada Allah dan malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya”.
Thawus bin kisan seorang tabiin juga mengatakan hal yang sama seperti ucapan Ibnu Abbas di atas. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 2/80)
Atha bin Abi Rabah berkata:”Itu adalah kufrun duna kufrin, dzulmun duna dzulmin dan fisqun duna fisqin.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 2/80).
Ibnul Jauzi dalam kitabnya Zaadul Maasir Fi ‘Ilmit Tafsir berkata: ”Yang dimaksud dengan kekafiran dalam ayat tersebut ada dua pendapat. Pertama kufur kepada Allah dan yang kedua kufur kepada hukum tersebut yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama. Kesimpulannya, adalah bahwa seorang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan dengan menentangnya dalam keadaan dia tahu Allah subhanahu wata’ala telah menurunkannya seperti apa yang dilakukan oleh Yahudi, maka dia kafir. Adapun orang yang berhukum tidak dengan hukum Allah karena kecenderungan hawa nafsu dengan tidak menentangnya maka dia adalah dhalim atau fasik”.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah berkata: “Barang siapa berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan:
1. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
2. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama/sederajat dengan syariat islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam”, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
3. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini dan berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah”, maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.
4. Seseorang yang mengatakan: “Aku berhukum dengan hukum ini”, namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak di perbolehkan, dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. (Al Hukmu Bighoirima’anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari At Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al Uraini, hal. 21-22)

2. Makna jama’ah sendiri ada 6 menurut ulama :
Dari hadits-hadits di atas dan yang semisalnya para ulama berbeda di dalam menafsirkan kalimat Al-Jama’ah yang terdapat di dalam hadits-hadits tersebut sehingga ditemukan ada enam penafsiran :
– Pertama : Jama’ah adalah Assawadul A’zhom (kelompok yang paling besar dari umat Islam). Ini adalah pendapat Abu Mas’ud Al-Anshory, ‘Abdullah bin Mas’ud dan Abu Ghalib.
– Kedua : Al-Jama’ah adalah jama’ah ulama ahli ijtihad atau para ulama hadits, dikatakan bahwa mereka ini adalah jama’ah karena Allah I menjadikan mereka hujjah terhadap makhluk dan manusia ikut pada mereka pada perkara agama.
Berkata Imam Al-Bukhory menafsirkan jama’ah : ”Mereka adalah ahlul ‘ilmi (para ulama)”.
Dan Imam Ahmad berkata tentang jama’ah : ”Apabila mereka bukan Ashhabul Hadits (ulama hadits) maka saya tidak tahu lagi siapa mereka”.
Dan Imam Tirmidzi berkata : ”Dan penafsiran jama’ah di kalangan para ulama bahwa mereka adalah ahli fiqh, (ahli) ilmu dan (ahli) hadits”.
Dan ini merupakan pendapat ‘Abdullah bin Mubarak, Ishaq bin Rahaway, ‘Ali bin Al-Madiny, ‘Amr bin Qais dan sekelompok dari para ulama salaf dan juga merupakan pendapat ulama ushul fiqh.
– Ketiga : Al-Jama’ah adalah para sahabat. Hal ini berdasarkan hadits perpecahan umat yang di sebahagian jalannya disebutkan bahwa yang selamat adalah Al-Jama’ah dan dalam riwayat yang lain : “Apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Dan ini adalah pendapat “Umar bin ‘Abdil ‘Aziz dan Imam Al-Barbahary.
– Keempat : Al-Jama’ah adalah jama’ah umat Islam apabila mereka bersepakat atas satu perkara dari perkara-perkara agama. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Asy-Syathiby.
– Kelima : Al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin apabila mereka bersepakat di bawah seorang pemimpin. Ini adalah pendapat Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Atsir.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguasa di kalangan kalian.” (An-Nisa`: 59)
– Keenam : Al-Jama’ah adalah jama’ah kebenaran dan pengikutnya. Ini adalah pendapat Imam Al Barbahary dan Ibnu Katsir.

3. Jangan takut dibilang kafir atau lebih tepatnya ditakut-takuti oleh jama’ah anda bahwa kalau tidak berbaiat maka kalau mati matinya kafir=jahiliyah padahal jahiliyah yang dimaksud bukan hal itu.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yaitu di atas sifat kematian orang-orang jahiliyah, yang mereka dalam keadaan kacau, tidak memiliki imam”.(Syarah Muslim, 12/238. )
Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Orang-orang jahiliyah tidak membaiat imam, dan tidak masuk ke dalam ketaatan imam. Maka barang siapa di antara kaum muslimin yang tidak masuk ke dalam ketaatan kepada imam, dia telah menyerupai orang-orang jahiliyah dalam masalah itu. Jika dia mati dalam keadaan seperti itu, berarti dia mati seperti keadaan mereka, dalam keadaan melakukan dosa besar”. (Al-Mufhim, 4/59.)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqolani berkata: “Yang dimaksud dengan sifat kematian jahiliyah, ialah seperti matinya orang-orang jahiliyah yang berada di atas kesesatan dan tidak memiliki imam yang ditaati, karena orang-orang jahiliyah dahulu tidak mengenal hal itu. Dan yang dimaksudkan, dia mati bukan dalam keadaan kafir, tetapi dia mati dalam keadaan maksiat. Dan dimungkinkan, bahwa permisalan itu seperti lahiriyahnya; yang maknanya dia mati seperti orang jahiliyah, walaupun dia bukan orang jahiliyah. Atau bahwa kalimat itu disampaikan sebagai peringatan dan untuk menjauhkan, sedangkan secara lahiriyah bukanlah yang dimaksudkan”.(Fathul-Bâri, 13/9, syarah hadits no. 7054.)

4. Adapun kelompok sirriyah (rahasia) yang bergerak di bawah tanah dan mengaku kelompoknya sebagai negara dalam negara, maka ini hanyalah penamaan tanpa kenyataan (seperti NII, Jamaah Hizbullah, JI, LDII dll). Ia telah menipu diri sendiri dan menipu seluruh anggotanya, karena pada kenyataannya mereka tidak memiliki kekuasaan sedikitpun di wilayahnya. Bahkan, kalau mereka menghukumi sesuatu yang berbeda dengan keputusan penguasa yang sah, mereka justru akan ditangkap dan dipenjarakan. Ini adalah bukti bahwa pada kenyataannya mereka tidak memiliki kekuasaan sedikitpun. Dan juga pimpinannya tidak layak sama sekali disebut penguasa, sultan apalagi mau dikatakan sebagai imam yang harus di baiat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: