Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Ditahannya Matahari untuk Nabi YUSYA bin NUN (Yehovah-YHWH- Khalash/Joshua Prophet)

Posted by Bukit Barisan pada Maret 1, 2010

Bismillah,

Dikarenakan penolakan Bani Israil untuk berperang di bawah pimpinan Nabi Musa alaihissalam, lalu Allah menulis atas mereka kesesatan selama 40 tahun di gurun Sinai.

Mereka(Bani Israil) berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri(baitul maqdis) itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”(QS. Al-Maidah: 22)

مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ
“Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)

Maka hingga wafatnya Nabi Musa dan Nabi Harun Baitul Maqdis belum juga dapat dimasuki oleh Bani Israil karena pembangkangan mereka dan dihukum Allah agar mereka mengembara di Gurun Sinai selama 40 tahun.

Disebutkan pada bagian ketiga kitab Taurat bahwa Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk mengangkat 12 orang pemimpin dari 12 suku bani Israil(1) ketika waktu hukuman 40 tahun di padang pasir hampir habis. Hal ini dilakukan agar mereka bersiap untuk berperang menghadapi orang2 perkasa yang menguasai Baitul Maqdis(Yerusalem). Dalam alquran dikisahkan sbb:

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا

“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin..(QS. Al Maidah 12)

Namun dengan takdir Allah azza wa jalla, maka Nabi Musa alaihissalam dan Nabi Harun alahissalam wafat terlebih dahulu sebelum masa pengasingan Bani Israil selama 40 tahun selesai.

Dan karena sangat inginnya Nabi Musa alaihissalam masuk ke Yerusalem, hingga beliau memohon kepada Allah agar diwafatkan di dekat batas kota suci tsb. Hingga keinginan tersebut akhirnya terlaksana ketika masa 40 tahun pengasingan Bani Israil hampir habis.

Musa berkata, ’Matikanlah aku di dekat tanah suci sejauh lemparan batu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Demi Allah, seandainya aku di sana, niscaya aku tunjukkan kuburnya kepada kalian di samping jalan di pasir merah.(HR. Muslim dalam Kitabul Fadhail, bab keutamaan Musa, 4/1842. HR. Bukhari dalam Jami’ul Ushul, bab orang yang ingin dikubur di tanah suci, 3/206, no. 1339; dalam Kitab Ahaditsil Anbiya’, bab wafat Musa, 6/440, no. 3407)

Kemudian setelah itu diangkatlah Nabi Yusya bin Nun sebagai pemimpin seluruh Bani Israil.

Gurun Sinai di bagian selatan terdiri atas perbukitan

KELUARNYA BANI ISRAIL dari PADANG PASIR

Nama Yusya pada dasarnya adalah Husya’ atau Hausya’, dan bahwa Musa-lah yang memanggilnya Yasyu’. Yasyu’ adalah pengganti Musa. Dia pertama kali sebagai pelayan Musa. Dalam hidupnya Musa menugaskannya untuk mengurusi sebagian perkara-perkara besar.(kutipan dari israiliyat)

Allah subhanahu wa ta’ala membuka tanah suci Yerusalem lewat tangan Nabi Yusya bin Nun untuk Bani Israil setelah Musa ‘Alayhi Salam. Yusya’ tidak mementingkan jumlah besar dalam menghadapi musuh. Dia lebih memperhatikan kualitas pasukan perangnya. Oleh karena itu, dia menyortir bala tentaranya dari prajurit-prajurit yang hati mereka tertambat dengan urusan dunia yang telah memenjarakan hati mereka.

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.(QS. Al Maidah 23)

Berdasarkan ayat di atas maka Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Taariikhnya(I/271) mengemukakan bahwa ulama sepakat bahwa sepeninggal Musa, Bani Israil dipimpin oleh Yusya bin Nun dan Kalib bin Yafnah kemudian baru Nabi Hizqiyal bin Buzi dan Nabi Syamu’il.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.(QS. Al Kahfi 60)

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.(QS. Al Kahfi 60)

Menurut hadits yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bahwa murid yang dimaksud pada 2 ayat QS. Al Kahfi tentang kisah Nabi Musa mencari orang yang lebih alim dari dirinya yaitu Khidhir adalah Nabi Yusya bin Nun

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing-masing dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Salah seorang Nabi berperang. Dia berkata kepada kaumnya, ‘Jangan mengikutiku orang yang menikahi wanita sementara dia hendak membangun rumah tangga dengannya dan dia belum membangunnya dengannya, dan tidak juga seorang yang membangun rumah tapi belum melengkapi atapnya. Tidak pula orang yang telah membeli kambing atau unta betina yang bunting sementara dia menunggu kelahirannya.” Lalu Nabi itu berperang. Dia mendekati sebuah desa pada waktu shalat Ashar atau dekat waktu Ashar. Maka dia berkata kepada matahari, “Sesungguhnya kamu diperintahkan dan aku pun diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untuk kami.” Matahari tertahan dan mereka meraih kemenangan. Lalu dia mengumpulkan harta rampasan perang. Maka datanglah api untuk melahapnya tetapi ia tidak bisa memakannya. Nabi itu berkata, “Ada di antara kalian yang menggelapkan harta rampasan perang, hendaknya dari masing-masing kabilah ada satu orang yang membaiatku.” Maka tangan seorang laki-laki menempel dengan tangannya dan dia berkata,

“Kamu menggelapkan harta rampasan perang. Hendaknya kabilahmu membaiatku.” Maka ada dua atau tiga orang yang tangannya menempel dengan tangannya. Dia berkata, “Kalian menggelapkan rampasan perang.” Maka mereka datang menyerahkan emas sebesar kepala sapi. Mereka meletakkannya, lalu datanglah api dan memakannya. Kemudian Allah menghalalkan harta rampasan perang bagi kita. Dia mengetahui kelemahan dan ketidakmampuan kita, maka Dia menghalalkannya untuk kita. (HR. Bukhari dan Muslim)(2)

Nabiyullah Yusya’ pada saat persiapannya menuju kota yang hendak ditaklukkan dia berusaha supaya pasukannya menjadi pasukan yang kuat dan tangguh. Nabi Yusya’ alaihissalam tidak mementingkan jumlah besar dalam menghadapi musuh. Dia lebih memperhatikan kualitas pasukan perangnya. Oleh karenanya, dia menyortir prajurit-prajurit yang bisa menjadi biang kekalahan, karena hati mereka lebih disibukkan oleh perkara dunia yang membelenggu hati dan pikiran mereka. Yusya’ mengeluarkan tiga kelompok prajurit yang itu tidak diizinkan untuk pergi berperang.

Rasulullah menyampaikan kepada kita bahwa Yusya’ berperang dengan bala tentara tersebut untuk melawan penduduk sebuah kota. Dia khawatir malam tiba sebelum kemenangan diraih di tangan, karena pada waktu peperangan terjadi Hari Jum’at dan mau masuk hari Sabtu/malam Sabtu. Bani Israil dilarang melakukan kegiatan di hari Sabtu/Sabbath. Beliau pun memohon kepada Allah supaya menahan matahari. Maka dia berkata kepada matahari, “Sesungguhnya kamu diperintahkan dan aku pun diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untuk kami.” Kemudian Allah tahan matahari agar jangan terbenam dan mereka meraih kemenangan.

Iman Yusya’ begitu besar. Dia yakin kodrat Allah di atas segala sesuatu. Dia mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum terbenamnya matahari. Urusan seperti ini tidak sulit bagi Allah, sehingga bumi ditahan berputar oleh Allah.

Itu adalah salah satu ayat Allah. Allah juga menunjukkan ayat-Nya yang lain, melalui tangannya manakala terungkap orang orang yang menggelapkan harta rampasan perang dan Allah memurkai mereka.

Kemudian Bani Israil berhasil menguasai Baitul Maqdis, dan hal ini berlangsung selama Nabi Yusya ditengah-tengah mereka. Nabi Yusya memberikan hukum/keputusan dengan kitab Allah, Taurat, hingga dia wafat.

wallahu a’lam

sumber : Kisah Shahih Para Nabi dan Rasul karya Dr. Sulayman Al Asyqar
Qishasul Anbiya Ibnu Katsir yang diringkas oleh Syaikh Salim Ied Al Hilali

notes:
1). 1..Rubin/Ruben    2. Syam’un/Simon   3. Lawway/Levi    4. Yahuda/Judah    5. Dann 6. Naftali
7. Jaad/Gad  8. Asyir/Asher  9. Yasakir/Isacchar 10. Zabulun/Zebulon  11. Yusuf/Joseph/Jose/Yosi 12. Bunyamin/Benjamin

Pembagian wilayah 12 suku Israel setelah suku Yusuf dipecah menjadi Efraim dan Manassye, kemudian Suku Levi/Lewy tidak mendapatkan kekuasaan karena mereka suku spesial yang banyak menurunkan ulama/nabi di kalangan Bani Israil

2). HR. Bukhari dalam Kitab Fardhul Khumus, bab sabda Nabi, “Dihalalkan harta rampasan perang untuk kalian.” (6/220, no. 3124). Diriwayatkan oleh Bukhari secara ringkas dalam Kitab Nikah, bab orang yang hendak berumah tangga sebelum perang, 9/223, no. 5157.
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Jihad Was Siyar, bab penghalalan harta rampasan perang, 3/1366, no. 1747. Ia pun terdapat di dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 12/409.)

2 Tanggapan to “Ditahannya Matahari untuk Nabi YUSYA bin NUN (Yehovah-YHWH- Khalash/Joshua Prophet)”

  1. Berarti yusya itu bisa dikatakan nabi khoidir as

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: