Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Kaya Bersyukur atau Miskin Bersabar….Siapa yang lebih Utama??

Posted by Bukit Barisan pada Oktober 9, 2010

سْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Manakah yang lebih afdhal dan utama, orang kaya yang bersyukur atas kekayaannya dan memanfaatkannya untuk kebaikan, ataukah orang miskin yang bersabar atas kemiskinannya?

Insya Allah kita pada zaman ini akan memilih yang kaya donk…

Hotel Bintang Tujuh dan Hotel Kopral

Jawab: Dalam masalah ini tidak dimutlakkan mana yang lebih utama dari kedua kelompok tersebut(1), dan yang lebih utama adalah yang paling bertaqwa dari keduanya. Jika dalam hal ketaqwaan sama maka derajat dan keutamaan keduanya adalah sama. (buku terjemah kaya bersyukur miskin bersabar oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah)

Ibnu Qayyim berkata, “Menurut ahli tahqīq dan ma`rifah, masalah pengutamaan tidaklah terkait dengan hal kefakiran (kemiskinan) dan kekayaan (itu sendiri). Namun terkait dengan amal, kondisi dan realitas. Yang dipermasalahkan pun pada dasarnya tidak tepat. Sebab pengutamaan di sisi Allah terkait dengan taqwa dan hakikat iman, bukan dengan kefakiran atau kekayaan.” [terjemah Madārijus Salikin Pustaka Al Kautsar]

إِن يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقَيراً فَاللّهُ أَوْلَى بِهِمَا

“Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.”(QS. An-Nisā’: 135)

`Umar Ibn al-Khaththāb berkata:

الْغِنَى وَالْفَقْرُ مَطِيَّتَانِ لاَ أُبَالِي أَيَّتهُمَا رَكِبْت

ُ“Kekayaan dan kefaqiran adalah dua tunggangan, aku tidak peduli yang mana dari keduanya yang aku tunggangi.” (Majmu al-Fatāwa Ibnu Taimiyah)

أيحسبون أنما نمدهم به من مال وبنين نسارع لهم في الخيرات بل لا يشعرون

Artinya: “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa). Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Q.S. Al Mu’minun: 55-56)

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا  يَعْلَمُون وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

Katakanlah: `Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga)” (QS Saba 36-37)

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.

Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al Fajr: 15-16)

Intinya yang paling utama:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kalian” (QS. Al-Hujurat: 13)

Hakikat takwa seperti apa yang diinginkan Islam? Kalau kita kembali runut dalam Al-Qur’an maka kita akan menemukan jawabannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

“Maka bertakwalah sesuai kadar kemampuan kalian dan dengarlah serta taatlah” (QS. At-Taghabun: 16).

Takwanya yaitu mematuhi semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan kembali kepada alquran dan sunnah. Mendengarkan dan mematuhi nabi dengan berpegang erat kepada sunnahnya berdasarkan pemahaman para sahabat dan ulama salaf.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? “(QS. Al Ankabuut: 2)

Nota:

(1). Mari kita singkirkan orang seperti kedua model ini :Fakir yang sombong n tamak dunia dan Si kaya yang kikir (bahkan kita akan bingung lagi siapa yang paling akhir mendapat siksa di akhirat??)

Tidak termasuk mereka yang lalai dalam ibadah, kaya yang tidak berinfaq setiap hari (hartanya 10 jt berinfaq Rp 1000), karena banyaknya manusia yang Ge-eR klo diberi kenikmatan kekayaan oleh Allah merasa dekat dengan Allah. Dan klo berinfak dengan pakaian bekas, makanan sisa dan sejenis (alasannya khan masih bisa dipakai buat orang lain)

atau si miskin yang selalu berkeluh kesah baik dengan lisan ,hati dan perbuatan. Si miskin yang menjadikan fakirnya sebagai kedok untuk mendapatkan uluran tangan dari si kaya atau seperti mereka2 yang ditimpa bencana kemudian merasa Allah sudah menghukum mereka.  Si fakir yang fakir/miskinnya karena terpaksa, bukan kehendak penuhnya sendiri (seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab radhiyallahu anhum, yang dunia sudah dibentangkan kepada mereka namun mereka memilih zuhud seperti Rasulullah shallallahu alaihi wassalam). Dan juga si miskin yang marah klo tidak diberi rizki dan ridha klo diberi nikmat.

wallahu a’lam

sumber : Terjemahan Kitab Kemuliaan Sabar dan Keagungan Syukur karya “si dokter Hati” Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, 2005. 670 hal. Penerbit Mitra Pustaka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: