Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Berbakti Kepada OrangTua

Posted by Bukit Barisan pada November 9, 2011

Seorang Ibu bila bisa menumpahkan uneg-unegnya pada anaknya akan berkata “aku inilah pahalamu…ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah…”

“Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…”

anakku pernah engkau mendengar sabda Rasulullah shalllallahu alaihi wassalam yang menyifati aku dengan surgamu:

الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Al Albani)

DALIL-DALIL ALQURAN

“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (1)… .” (QS. An Nisa’ : 36)

Katakanlah : “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Rabb kalian, yaitu janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Dia dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua.” (QS. Al An’am : 151)

“Dan Tuhanmu memerintahkan supaya kamu janganlah menyembah kecuali Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa kamu. Jika salah seorang atau kedua-duanya sudah mencapai usia tua di bawah jagaanmu, maka jangan kamu sekali-kali menyatakan kepada mereka walaupun perkataan ‘ah’.(2) Dan janganlah kamu menghardik mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia (lagi sopan). Dan rendahkanlah diri kamu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan sambil berdoa, “Ya Tuhanku kasihanilah mereka berdua, seperti mereka berdua mencurahkan kasih sayang mendidik aku ketika kecil.” (QS. Al Isra 23-24)

“Dan Kami wajibkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kalian kembali lalu Aku kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 8)

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan-Nya itu adalah kedhaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada- Ku-lah kalian kembali maka Ku-beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (QS. Luqman : 13-15)

Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia dewasa dan umurnya telah sampai empat puluh tahun(3), ia berdoa : “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.” Mereka inilah orang-orang yang Kami terima dari mereka amalan yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan kesalahan mereka bersama penghuni-penghuni Surga sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (QS. Al Ahqaf : 15-16)

DALIL-DALIL HADITS

الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)

‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash berkata : Datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian dia meminta ijin kepada beliau untuk berjihad. Maka beliau bersabda : “Apakah kedua orang tuamu masih ada?” Orang itu berkata : “Ya!” Beliau bersabda : “Maka kepada keduanya, berjihadlah engkau.” (HR. Bukhari nomor 5972 dan Muslim nomor 2549)

Masih dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash ia berkata : Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian berkata : “Aku datang untuk berbaiat kepadamu untuk hijrah dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Mendengar hal itu, Nabi bersabda : “Kembalilah engkau kepada keduanya. Maka buatlah keduanya tertawa sebagaimana sebelumnya engkau telah membuatnya menangis.” (HR. Abu Dawud nomor 2528 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud nomor 2205)

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku sikapi dengan baik?” Beliau bersabda : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Beliau menjawab : “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Beliau menjawab : “Ibumu.” Lalu orang itu bertanya lagi : “Kemudian siapa?” Beliau berkata : “Ayahmu.” (HR. Bukhari nomor 5971 dan Muslim nomor 2548)

Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Seorang anak tidak bisa membalas kebaikan orang tuanya kecuali jika dia mendapati orang tuanya sebagai budak, kemudian ia beli dan membebaskannya.” (HR. Muslim nomor 1510)

diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه

)

Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya(HSR Bukhari no. 2574)

PARA NABI dan RASUL adalah SURI TAULADAN dalam BERBAKTI PADA ORANGTUA

Nabi Isa bin Maryam alaihissalam:

Berkata Isa: “Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi, Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.(QS. Maryam 30-34)

Nabi Yahya alaihissalam:

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi kami dan kesucian (dan dosa). dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.(QS. Maryam 12-14)

Nabi Ibrahim alaihissalam:

Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.(QS. Ibrahim 40-41)

Nabi Nuh alaihisssalam:

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kebinasaan”.(QS. Nuh 28)

LARANGAN DURHAKA pada ORANGTUA

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tiga orang yang tidak akan dilihat Allah di hari kiamat adalah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, dan DAYYUTS (pria yang membiarkan istri n keluarganya bermaksiat). Dan tiga jenis orang yang tidak masuk Surga adalah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, peminum (pecandu) khamr, dan pengungkit-ungkit pemberian bila diberi.” (Lihat Shahihul Jami’ nomor 3066 dan Ash Shahihah nomor 674)

Dari Mughirah bin Syu’bah radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup, tidak mau menunaikan yang wajib, dan mengambil yang bukan haknya dari barang milik orang lain.” (HR. Bukhari nomor 5975 dan Muslim nomor 539)

Abu Bakrah menceritakan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar?” (Beliau mengulanginya sampai tiga kali). Maka kami berkata : “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda : “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.(4)” Ketika itu beliau bersandar kemudian duduk sambil berkata : “Ketahuilah begitu juga dengan ucapan dusta dan saksi dusta.” Beliau terus mengulang-ulangnya hingga kami berkata : “Semoga beliau diam.” (HR. Bukhari nomor 2653 dan Muslim nomor 87)

Ibnu Umar menegaskan;

“Tangisan kedua ibu bapa adalah kedurhakaan yang sangat besar”(HR Bukhari di dalam Al Adab al Mufrod)

POTRET SALAF(5) DALAM BERBAKTI KEPADA ORANGTUA

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadhr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/05/sufyan-bin-uyainah-wafat-198-h/

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/28/muhammad-bin-sirin-wafat-110-h/

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Ibnu ‘Aun Al Muzani pernah dipanggil ibunya maka suaranya mengalahkan suara ibunya (lebih tinggi). Karena perbuatan tersebut, dia membebaskan dua budak. Qurrah bin Khal berkata : “Kami ketika itu kagum kepada sifat wara’-nya Muhammad bin Sirrin, maka perbuatan Ibnu ‘Aun membuat kami lupa kepadanya.” (Tahdzib Siyar A’lamin Nubala’ 544)

Kisah Uwais al-Qorni(6)

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Ja’far bin Khaqun Al Marwadzi berkata : “Aku hendak keluar (setelah mengumpulkan hadits Bashrah) namun ibuku melarangku. Maka aku taat padanya sehingga aku diberkahi karenanya.” (Siyar A’lamin Nubala’ 12/145)

Kata Ja’far Al Khalidi, Abbar adalah seorang ulama hadits di Baghdad dan dia seorang yang zuhud. Suatu saat dia meminta ijin kepada ibunya untuk rihlah (safar menuntut ilmu) ke Qutaibah. Tapi sang ibu tidak mengijinkannya.Kemudian ibunya wafat. Maka mereka mengunjunginya karena itu. Ia berkata : “Ini buah ilmu, yaitu aku memilih ridla ibuku.” (Siyar A’lamin Nubala’ 13/443)

KEPADA MEREKA YANG MASIH SUKA BERTENGKAR dan DURHAKA kepada ORANGTUANYA

‘Uquq adalah berarti memotong (seperti halnya ‘aqiqah yang bererti memotong kambing)

عقو ف الوالد ين

‘Uququl Walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak kepada kedua orang tuanya baik melalui perkataan atau perbuatan.

Ibnu ‘Athiyah berkata, bahwa wajib bagi kita untuk mentaati keduanya dalam segala hal yang mubah (apa lagi yang wajib)

Sekiranya seorang ibu bisa berkata pada anaknya:

“Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!

Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!”

Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:

رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)

Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551, lidwa.com –> no.4627)

Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.

Anakku…

Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…

Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…

Engkau memberi nafkah/sedekah kepada orang lain seakan-akan engkau sudah berbuat baik sekali, tapi terhadap ibu bapakmu engkau malah terlupakan..

Bukankah Allah berfirman

يَسْأَلونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan berupa kebaikan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. 2:215)

الجزاء من جنس العمل

Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.

الجزاء من جنس العمل

Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.

bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…

 

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(QS. Al Isra’ 24)

 

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.(QS. Ibrahim 41)

Beruntunglah mereka-mereka yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup yang masih mempunyai harapan untuk memasuki 2 pintu surga.

Nota:

(1). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat di atas : “Kemudian (setelah menyuruh bertauhid, pent.) Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi wasiat untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena Allah menjadikan mereka berdua sebagai sebab keluarnya engkau dari ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Dan banyak sekali Allah menggandengkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua.”

(2). “Ah” saja tidak boleh apalagi yang lebih berat dari itu, misal : menyakiti ortu dengan cercaan atau bertengkar hebat.

(3). Doa yang dibaca ketika umur kita menginjak 40 tahun (tahun Hijriah bukan Masehi)

(4). Imam Adz Dzahabi memasukkan durhaka kepada orang tua adalah dosa yang sangat besar dalam kitabnya AL KABAIR(Dosa-dosa Besar)

(5). Salafussholih (Sahabat,tabiin, tabiuttabiin) adalah generasi terbaik umat ini. Merekalah generasi terbaik yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam di dalam haditsnya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku(sahabat), kemudian yang setelahnya(tabiin), kemudian yang setelahnya(tabiut tabiin).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu)

(6). Beliau adalah seorang generasi tabiin yang alim ahli ibadah yang doanya mustajab yang diisyaratkan Nabi shalllallahu alaihi wassalam dalam haditsnya

(7). Syaikh Utsaimin menjelaskan, “Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya maka mereka merasa bahwa mereka telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti. Adapun tatkala mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya maka seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti, padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.”

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Sekeping dinar yang engkau infakkan pada jihad fi sabilillah, sekeping dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan budak, sekeping dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan sekeping dinar yang engkau infakkan kepada istrimu, maka yang paling besar pahalanya adalah sekeping dinar yang engkau infakkan kepada istrimu” (HR Muslim no 995)

Sebab yang menjadikan pahala infaq kepada keluarga adalah yang terbesar yaitu karena memberi nafkah kepada keluarga hukumnya adalah wajib ‘ain berbeda dengan memberi nafkah pada perkara-perkara sebelumnya yang tersebut di hadits (jihad, pembebasan budak, dan sedekah untuk fakir miskin). (Lihat Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim VII/81-82 dan Mirqootul Mafaatiih IV368). Oleh karena itu ulama berdalil dengan hadits ini bahwasanya fardu ‘ain lebih afdhol daripada fardu kifayah karena memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib ‘ain sehingga lebih afdhol dari pada memberi nafkah untuk jihad fi sabilillah yang merupakan fardu kifayah” (Faidhul Qodiir III/536)

sumber:

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/potret-salaf-dalam-birrul-walidain.html

http://addariny.wordpress.com/2010/02/05/wahai-anakku/

http://addariny.wordpress.com/2010/04/12/ibuku-sayang/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: