Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Archive for the ‘BIOGRAFI’ Category

Takluknya Ur Salim (Kota Kedamaian) Al Quds oleh Shalahuddin Al Ayyubi (Battle of Hattin 1187 M)

Posted by Bukit Barisan pada 5 Desember 2010

Bismillah,

Hampir 100 thn sebelum Sultan Qutuz & Imam Izzudin Abdissalam(Abdul Aziz bin Abdissalam) As Syafi’i memenangkan perang melawan Mongol di Ain Jalut. 90 th setelah Yerusalem/Ūrsālim-Al-Quds direbut oleh tentara Salib 1.

Akibat kekalahan Kekaisaran Byzantium/Romawi Timur yang dipimpin Romanos IV Diogenes sewaktu menyerang Kesultanan Seljuk Rum yang dipimpin Sultan Alp Arslan rahimahullah, maka Kaisar Alexius I Comnenos(Kristen Ortodoks) meminta pertolongan kepada Paus Urbanus II (Katolik Roma). Kemudian datanglah rombongan pasukan Salib menyerang Yerusalem dan menaklukkannya.  Dan terjadinya pembantaian muslimin di kota tersebut. Saksi sejarah Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa  di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.

Akibatnya banyak keluarga2 kaum muslimin yang berhijrah ke Damaskus dalam rangka menunaikan kewajiban hijrah(1) dari negeri kafir ke negeri islam, sesuai firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang(muslim) yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kalian ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya Neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS an-Nisa’ [4]: 97).

Salah seorang dari keluarga-keluarga tersebut adalah keluarga Abul Abbas Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah, tulang punggung keluarga dari pohon nasab yang baik ini hijrah bersama keluarganya ke Damaskus dengan kedua anaknya, Abu Umar dan Muwaffaquddin(Ibnu Qudamah), juga saudara sepupu mereka, Abdul Ghani al-Maqdisi, sekitar tahun 551 H / 1146 M. Waktu itu umur Ibnu Qudamah 10 th.

Kemudian di belahan timur bumi yang lain 20 tahun sebelumnya yaitu tahun 532 H/1137 M tepatnya di Tikrit, Iraq lahirlah seorang bayi yang kelak akan menjadi pemimpin dan pemersatu para mujahidin menghadapi kaum kuffar. Bayi tersebut bernama Shalahuddin dari Bani Ayyub bangsa Kurdi.

Kota-Kota dalam Tarikh Islam

Kota-kota dalam tarikh islam

 

Ayahnya menjadi penguasa Kesultanan Turki Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Baalbek dan menjadi pembantu dekat Raja Syam/Suriah Nuruddin Mahmud dari Keluarga Zanky. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari islam selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169 M, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir/menteri.

PASUKAN MUSLIMIN

 

Sultan Nuruddin Zanky memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Dinasti SYIAH  FATHIMIYAH (2) dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Hal yang dilakukan Nuruddin adalah menyatukan Pasukan muslimin dengan menundukkan Dinasti Fathimiyah di Mesir. Nuruddin mengirim Panglimanya yang tangguh Asasuddin Shirkuh dan Shalahuddin ke Mesir. Asasudin Shirkuh merupakan paman Shalahuddin. Shalahuddin dan pamannya mengalahkan gabungan pasukan Fathimiyah dan Perancis. Setelah Khalifah Al-‘Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin(Dinasti Zangids) menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.

Para pengikut Nuruddin Zangi seperti Muzafaruddin Kukburi/Gokbori(Serigala Biru dalam bahasa Turki) yang merupakan musuh Shalahuddin sewaktu Perang Hama melawan Dinasti Zanky/Zangid dan merupakan penguasa Irbil di Iraq, yang kemudian menjadi salah satu panglima Dinasti Ayyub setelah merosotnya kekuatan Dinasti Zangi. Gokbori merupakan seorang laki-laki gagah berani, pahlawan berpikiran matang, pemimpin yang teguh dan dapat diandalkan menurut sejarawan. Gokbori dikenang di Suriah dan Iraq sebagai pahlawan besar dan pelindung para cendekiawan seperti Ibnu Khalikan sang ahli sejarah. Gokbori juga merupakan gubernur Iraq pertama yang mendukung maulid Nabi(3) yang mencontoh tradisi yang dilakukan komunitas besar Kristen di Irbil, Iraq.

Kemenakan Shalhauddin yang bernama Taqiyuddin juga merupakan salah seorang Panglima perang yang brilian dan haus akan kekuasaan dan penaklukan. Taqiyuddin pernah akan memberontak sewaktu dicopot dari jabatan Gubernur Mesir, namun kemudian berbaikan dengan Sultan Shalahuddin setelah dia diberi kekuasaan sebagai Gubernur di Miyafariqin, Hama di utara Damaskus di perbatasan Kerajaan Ayyubi dengan Kerajaan Antiokia.

Anak Shalahuddin yang bernama Al Afdhal juga diserahkan tugas sebagai panglima.Al Afdhal panglima yang mengalahkan Panglima Templars Gerard De Ridefort pada Perang Mata air Cresson. Komandan pasukan islam yang lain adalah seorang Mamluk yang bernama Husamuddin Lu’lu yang merupakan panglima yang mengalahkan serangan Reynald du Chattilon di Laut Merah tahun 1183 M.

Kerajaan di sekitar Yerusalem th 1135 M setelah Perang Salib 1 dan terlibat pada Perang Salib 2

Kerajaan di sekitar Yerusalem th 1135 M setelah Perang Salib 1 dan terlibat pada Perang Salib 2

PASUKAN SALIB EROPA BARAT

Pasukan salib terdiri dari para ksatria Ordo Templars dan Ordo Hospitaler, Kingdom of Jerusalem, Oultrejordain, dan County of Tripoli. Para pemimpin/baron di pasukan salib tidaklah bersatu total karena adanya friksi-friksi lama yang muncul kembali yang berimbas pada kepentingan-kepentingan politik masing-masing kekuasaan.

Perpecahan yang pertama adalah perpecahan antara pemimpin ksatria Templars dari Inggris yang bernama Gerard de Rideford (4) dengan Comte Raymond III Tripoli. Kejadiannya karena Raymond mengingkari janjinya untuk menikahkan Gerard de Rideford yang dulu merupakan bawahannya di County of Tripoli dengan Putri Botrun yaitu Lucia de Botrun. Karena sakit hati maka Gerard bergabung dengan Ksatria Templars dan kemudian menjadi pemimpinnya. Sakit hati dan kemarahan terhadap Raymond terus dibawanya hingga terjadi perselisihan politik di Kerajaan Yerusalem.

Perpecahan yang kedua adalah terkait dengan Putri Sybilla yang merupakan Putri dari Raja Yerusalem Amalric I dan Ratu Agnes. Setelah suaminya William Longsword (keponakan Raja Perancis Louis VII) meninggal dunia, maka banyak para baron/Raja kecil yang ingin menikahi Putri Sybilla, namun sang Putri sudah jatuh cinta kepada Baldwin D’Ibelin yang merupakan kakak Balian D’Ibelin. Malangnya Baldwin D’Ibelin ditangkap Sultan Shalahuddin pada tahun 1179 M, sehingga rencana pernikahannya batal. Kemudian di tahun 1180 M Raymond III Tripoli dan Bohemond III of Antioch bermaksud menikahi Putri Sybilla, namun karena desakan Ratu Agnes Courtenay yang merupakan Ibu Putri Sybilla, maka sang putri dinikahkan dengan Ksatria Salib yang berasal dari Poitiers, Perancis Barat yaitu Guy of Lusignan. Keluarga Lusignan tiba di tanah suci Yerusalem setelah diusir oleh Raja Richard the Lionheart(keturunan Normandy) karena pembunuhan bangsawan Norman di Poitiers, Perancis.

Raja Yerusalem Baldwin IV si Lepra (Ibnu Jubair mengatakan Baldwin IV Al Khinzir) meninggal th 1185 M dengan meninggalkan pewaris Baldwin V anak dari William Longsword(sudah mati) dan Putri Sybilla yang merupakan saudarinya. Otomatis tahta Yerusalem diserahkan pada Baldwin V yang  muda  dan sebagai wali raja adalah Raymond III Tripoli. Namun Raja Baldwin V meninggal th 1187 M, kemudian terjadi kegoncangan di Kerajaan Yerusalem. Terjadi perpecahan antara golongan Raymond III Tripoli yang didukung keluarga Ibelin dari Ramalah terhadap Putri Sybilla dan suaminya Guy of Lusignan yang di dukung oleh Gerard de Rideford. Yang menjadi penengah dalam friksi ini adalah Balian D’Ibelin, dan akhirnya tahta Yerusalem jatuh ke tangan Guy of Lusignan. Comte Raymond III Tripoli kemudian mengundurkan diri dan balik ke kota Tiberias ke tempat istrinya dan memimpin disana.

PERTEMPURAN HATTIN Juli 1187 M dan TAKLUKNYA YERUSALEM Okt 1187 M

Perang ini dipicu oleh seorang Baron atau raja kecil dari Kerak (sekarang wilayah Israel), Arnad/Reynald/Reynaud du Chatillon. Para Baron lain tahu bahwa satu-satunya cara untuk menjaga keutuhan wilayah mereka adalah dengan menghormati tetangga muslim dan tidak melanggar berbagai perjanjian yang telah disepakati. Namun Reynald du Chatillon, dengan semboyan “Die to all Muslims” dan “It is not a crime to kill infidels” berkali-kali melanggar perjanjian, dari merampok caravan pedagang Muslim, membunuh orang-orang yang pergi haji, menjarah kapal milik muslim, hingga menyerang secara terbuka pelabuhan Mekkah dan Madinah. Meskipun serangan ini gagal namun sudah membuat dunia islam gempar dan mencoreng reputasi Sultan Shalahuddin Al Ayyubi sebagai pelindung 2 kota suci Mekah n Madinah

Benteng Karak

Benteng Kerak

Kastil Reginald du Chattilon di Kerak. Dari sinilah si penjahat perang ini mengatur penyerangan terhadap kafilah haji.

Sultan Shalahuddin langsung menyerang balik di tahun 1183 M dan ditanggapi oleh Pasukan Salib/Latin dengan mengerahkan pasukan terbesar yang pernah dihimpun, namun tidak terjadi peperangan karena pasukan Salib bersifat pasif/defensif.

Kemudian 4 tahun kemudian pada bulan Mei tahun 1187 M, dimulailah pergerakan militer yang ofensif/jihad thulab oleh Sultan Shalahuddin. Beliau memobilisasi pasukan dari Mesir yang dipimpin anaknya Al Afdhal dan Husamuddin Lu’lu. Dan terjadi pertempuran di Mata Air Cresson dimana pasukan Salib kalah telak. Hal ini membuat perselisihan Guy of Lusignan dengan Comte Raymond III Tripoli mereda karena adanya musuh bersama yaitu pasukan Muslimin. Dan Raymond III Tripoli menyatakan tunduk pada Kerajaan Yerusalem dan memutus perjanjian damai dengan Shalahuddin.

Peta Pergerakan Pasukan Yang terlibat Perang

Peta Pergerakan Pasukan Yang terlibat Perang Hattin

Pergerakan Militer th 1187 M.
Daerah di arsir merah = Kekuasaan Reynal du Chattilon yang bernama Oultrejordain
Daerah di arsir Hijau = Kingdom of Jerusalem yang dipimpin Raja Guy of Lusignan dan Ratu Sybilla
Daerah di arsir kuning = Kekuasan istri Raymond III Tripoli
Daerah di arsir ungu di utara = Kekuasaan Raymond III Tripoli

Sementara itu terjadi perundingan diantar pasukan Salib di Kastil Sephorie/Saffuriyah di utara Nazareth. Raymond III Tripoli yang merupakan pemimpin Latin/Salib paling cerdas dan merupakan pakar taktik terhebat di Yerusalem memberikan nasehat agar pasukan Salib menunggu saja dan bertempur di Yerusalem, kemudian menyerang dengan hebat dan melumatkannya sewaktu pasukan muslim sudah lelah dengan pengepungan. Namun ditolak oleh pemimpin salib yang lainnya dan memberikan ide untuk menyerang secara terbuka ke arah Tiberias.

Kedua belah pihak baik muslim atau kristen sama-sama memobilisasi pasukan dengan jumlah yang sangat besar. Di pihak Kristen terkumpul 18.000 – 20.000 pasukan di pihak muslimin juga kurang lebih sama. Pasukan Shalahuddin mulai menyeberangi Sungai Yordan yang berada di selatan Danau Tiberias pada akhir Juni 1187 M. Pada tanggal 2 Juli 1187 M terjadi serangan dan pengepungan Kota Tiberias yang dikuasai Raymond III Tripoli, namun hanya terdapat Count Eschiva yang merupakan istri Raymond III, hingga kota tersebut jatuh ke tangan muslimin. Sebenarnya penyerangan pasukan muslim ke Tiberias ini mengandung resiko yang sangat besar yaitu bisa terjepit diantara 2 kekuatan musuh yang besar yaitu Kerajaan Yerusalem dan Tiberias sebelum pasukan muslim mencapai kota Tiberias. Namun karena pergerakan militer yang cepat maka Kota Tiberias jatuh dan mengakibatkan terpancingnya pasukan salib keluar dari kastil2 mereka di Yerusalem untuk menghadapi Sultan Shalahuddin dan pasukan muslim di Danau Tiberias.

Tanggal 3 Juli 1187 M,  semenjak sampai di daerah Turan sekitar 12 km sebelah timur Hattin pasukan salib yang merupakan sumber air terdekat, kuda2 tunggangan tidak mau meminum air dan para pasukan ada yang terus berangkat hingga ke Kafr Sabt/Caffarset dekat perkemahan muslimin. Hal ini sangat fatal karena pasukan sudah kelelahan dan haus apalagi di bulan Juli yaitu puncak musim panas. Shalahuddin kemudian memfokuskan pasukan di Caffarset dan meninggalkan sedikit pasukan di Tiberias, kemudian mulai menyerang pasukan salib. Pasukan salib banyak yang tidak mau meneruskan penyerangan menembus barikade depan muslimin . Sehingga terjadi perubahan rencana mendadak, pasukan salib yang bergerak ke arah timur ke arah Tiberias, kemudian berbelok ke utara dengan maksud melewati Bukit Hattin lalu menuju mata air Hattin yang berjarak 6 km atau langsung ke Danau Tiberias yang berjarak 12 km untuk mendapatkan sumber air melimpah untuk persiapan perang. Kemudian pasukan salib berkemah di Hattin malam 4 Juli 1187 M.

Pasukan Salib yang diserang & dikepung di Puncak Hattin oleh Sultan Shalahuddin(tengah hijau), Panglimanya Taqiyuddin(kanan hijau), dan Panglimanya Muzafaruddin Gokbori (Kiri Hijau)

Pasukan Salib yang diserang & dikepung di Puncak Hattin oleh Sultan Shalahuddin(tengah hijau), Panglimanya Taqiyuddin(kanan hijau), dan Panglimanya Muzafaruddin Gokbori (Kiri Hijau)

Sultan Shalahuddin dapat membaca hal ini kemudian memerintahkan Taqiyuddin untuk mencegat pasukan salib di dekat puncak Hattin (utara). Beliau sendiri akan menyerang dari tengah(timur) dan Muzafaruddin Gokbori dengan sayap kirinya menyerang dari arah belakang(barat) pasukan salib.

hattin

Horns of Hattin dengan koordinat google map 32.800002, 35.459390

PERTEMPURAN HATTIN 4 JULI 1187 M

Fajarpun menyingsing pada pagi 4 Juli 1187 M di puncak Hattin, terjadilah pertempuran dahsyat. Sayap kanan yang dipimpin Taqiyuddin mendapatkan serangan dahsyat dan hampir jebol oleh serangan pasukan salib pimpinan Raymond III Tripoli yang membabi buta dengan maksud mencapai mata air Hattin di utara. Taqiyuddin berinisiatif meloloskan pasukan Raymond III daripada membuat pasukan muslim banyak terbunuh dan sekaligus melemahkan pasukan salib dengan berkurangnya pasukan Raymond III. Dan Raymond III berhasil lolos ke utara dan melarikan diri ke kota Tyre/Tyrus tanpa kembali ke kota istrinya Tiberias yang lebih dekat karena takut dijebak Sultan Shalahuddin. Pasukan salib pimpinan Guy of Lusignan dan Gerard De Ridefort semakin terdesak menuju puncak Hattin Utara dan pasukan infanteri pasukan salib sudah tidak bersemangat berperang karena haus. lelah, dan kesalahan strategi pemimpinnya. Di sebelah selatan yaitu dekat tanduk Hattin selatan, pasukan Templars pimpinan Balian D’Ibelin dapat melarikan diri ke Selatan menerobos kepungan Muzafaruddin Gokbori.

Panorama Hattin sekarang di dekat Danau Tiberias

Panorama Hattin sekarang di dekat Danau Tiberias

Pasukan Shalahuddin vs Pasukan Salib dengan salib sucinya di Medan Hattin

Akhirnya pasukan muslimin sayap kanan pimpinan Taqiyuddin berhasil merebut Salib Suci yang dipegang Uskup Besar Akre dan Uskup Lidde di tanduk Hattin utara. Hal ini membuat mental pasukan salib jatuh dan mulai tampak tanda-tanda kekalahan di mata mereka. Pasukan muslimin menjadi gembira, namun Sultan Shalahuddin berkata pada pasukannya agar jangan gegabah sebelum berhasil meruntuhkan Tenda Merah Besar Kerajaan Yerusalem di Tanduk Hattin. Dan akhirnya rubuhlah tenda merah besar itu dan berakhirlah Perang Hattin dengan kemenangan di pihak muslimin. Para pemimpin salib hampir semuanya ditawan kecuali Balian D’Ibelin, Raymond III Tripoli, dan Joscelyn de Courtnay . Para pemimpin yang ditawan adalah Guy of Lusignan sebagai Raja yerusalem, Reynaud/Reynald du Chattilon, Gerard de Ridefort, Uskup Lidde, Humphrey II de Toron, pemimipin ordo Hospitaller dll.

Kemudian Sultan Shalahuddin memenggal kepala sang penjahat Reynal du Chattilon dan membebaskan Raja Guy of Lusignan, Gerard de Ridefort dan yang lainnya.

Setelah mengalahkan pasukan salib maka pasukan muslimin terus menuju ke kota-kota dan benteng-benteng pasukan salib di wilayah Kerajaan Yerusalem untuk melakukan pengepungan dan penaklukan.

Dua bulan kemudian pada akhir bulan September (20-30 Sept 1187 M) pasukan muslimin mengepung kota Yerusalem. Shalahuddin mengerahkan segenap kekuatan mujahidin untuk menggempur benteng Palestina/Yerusalem. Barisan pelontar batu api (manjaniq) dikerahkan untuk meruntuhkan benteng Yerusalem. Balian de Ibelin juga balas melontarkan manjaniq-nya sehingga kaum muslimin menjemput syahid. Tekanan mujahidin begitu kuat, sehingga Balian mengirim dua orang utusan untuk meminta jaminan keselamatan dari Shalahuddin. Namun Shalahuddin menolak dan mengingakan mereka akan pembantaian besar yang mereka lakukan seratus tahun lalu di tahun 1099 M. Akhirnya Balian de Ibelin datang sendiri menghadap Shalahuddin dan mengancam akan membunuh semua manusia di dalam benteng, menghancurkan masjid Al-Aqsa, dan berjuang sampai mati, jika permohonannya tidak mendapat jaminan keamanan.

Setelah mengadakan syura/musyawarah dengan beberapa ulama dan penasihat militer, Shalahuddin menerima permintaan Balian de Ibelin. dan akhirnya takluklah Yerusalem pada tgl 2 Oktober 1187 M tanpa adanya pembantaian yang keji oleh pasukan muslimin terhadap kristen, dan hal ini bertolak belakang dengan takluknya Yerusalem oleh pasukan Salib tahun 1099 M dimana terjadi pembantaian keji terhadap muslimin oleh pasukan salib.

ULAMA yang BERPERANG di MEDAN HATTIN

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy (541 H/ 1146 M – 629 H/ 1232 M) juga seorang mujahid yang terjun di medan jihad fisabilillah bersama pahlawan besar Shalahuddin al-Ayyubi  yang berhasil menyatukan kekuatan militer umat Islam pada tahun 583 H / 1187 M untuk menumpas tentara salib dan membersihkan tanah suci Quds dari najis mereka. Para penulis biografi Imam Ibnu Qudamah Al Hambali menyebutkan bahwa belia dan saudara kandungnya, Abu Umar, beserta murid-murid beliau dan beberapa orang keluarganya turut berjihad di bawah panji-panij para mujahidin yang dimenangkan oleh Allah ini. Beliau berdua dan murid-muridnya mempunyai satu kemah yang senantiasa berpindah-pindah kemanapun para mujahidin berpindah dan mengambil posisi. Beliau adalah salah satu ulama penasihat Sultan Shalahuddin Al Ayyubi disamping Ibnu Az-Zaki Asy-Syafi’i  dan Ibnu Naja’ al-Qadiri al Hambali

Setelah pertempuran yang sangat menentukan ini wilayah Kesultanan Shalahuddin Al Ayyubi meliputi Mesir, Syam/Syiria, Hijaz, hingga sebagian Iraq

Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin Al Ayyubi

Saking terkenalnya Sultan Shalahuddin al Ayyubi ini di dunia barat, sampai2 bila para lelaki salib berangkat perang dan berjanji pada tunangannya untuk pulang dengan selamat, maka tunangannya akan berkata “WE THRUST SALADIN BECAUSE HE NEVER LIES”.Dengan kata lain kami tak percaya kamu dengan membandingkannya dengan Saladin

Notes:

1). Imam Ibnu Qudamah menyatakan:

Ayat ini merupakan peringatan sangat keras yang menunjukkan pada hukum wajib. Sebab, melaksanakan kewajiban agama merupakan kewajiban bagi orang yang mampu melaksanakannya. Hijrah termasuk kewajiban yang sangat penting, sekaligus penyempurna bagi kewajiban lain. Jika suatu kewajiban tidak sempurna kecuali oleh sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, X/514).

2) lihat–> http://muslim.or.id/manhaj/hegemoni-syiah.html
http://www.hakekat.com/
http://haulasyiah.wordpress.com/

3) Maulid Nabi termasuk inovasi/bid’ah dalam agama islam(muncul 500 th setelah nabi wafat). Bid’ah adalah segala sesuatu yang diada-adakan di dalam agama islam tanpa adanya petunjuk dari Rasulullah shalllallahu alaihi wassalam. Bid’ah tidak termasuk masalah dunia, justru masalah dunia harus ada inovasi,seperti membuat pesawat, peralatan tempur, mikrofon utk masjid dll.

“Barangsiapa mengada-adakan(bid’ah) dalam perkara (agama) kami ini apa-apa yang bukan darinya maka amalan tersebut tertolak(tidak diterima Allah).” (HR. Al-Bukhariy no.2550 dan Muslim no.1718

http://www.rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2929-benarkah-ibnu-taimiyah-ibnu-hajar-shalahuddin-al-ayubi-pro-maulid-nabi.html

4) aslinya orang Flanders/Flemming dari Belgia yang bergabung dengan orang Norman pimpinan William Sang Penakluk /Guillaume Ier d’Angleterre)yang menaklukkan Inggris dalam pertempuran Hasting 1066


sumber:

Hattin 1187 by David Nicolle

http://www.saudiaramcoworld.com/issue/197003/saladin-story.of.a.hero.htm
http://www.saudiaramcoworld.com/issue/196202/champion.of.the.faithful.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Hattin_Battle
http://en.wikipedia.org/wiki/Kingdom_of_Jerusalem
http://en.wikipedia.org/wiki/Vassals_of_the_Kingdom_of_Jerusalem

Posted in Big Battle, BIOGRAFI | Dengan kaitkata: | 1 Comment »

DURJANA dan KSATRIA

Posted by Bukit Barisan pada 17 Oktober 2010

Jangan BANGGA dengan alimmu sekarang dan Jangan PUTUS ASA dengan kebejatanmu sekarang..

 

1). Kisah Alim Ulama yang menjadi Durjana

 

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami ( pengetahuan tentang isi Al Kitab ), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda ), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurunkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu mengacuhkannya dijulurkanya lidah dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al A’raaf 175-176)

 

Abdullah Bin Mas’ud mengatakan bahwa yang dimaksud pada ayat di atas adalah seorang dari Bani Israel yang bernama Bal’am bin Baura, seorang alim ( ulama ) yang sangat paham tentang ilmu agama. Singkatnya ia di berikan anugrah Ilmu yang merupakan anugrah besar setelah hidayah. Namun ia tergoda oleh kesenangan dan kemegahan duniawi , harta benda, wanita dan perhiasan dunia lainya, akhirnya dia menjadi manusia yang hina yang diibaratkan seperti ANJING.

 

Malik bin Dinar mengatakan : “Dia adalah salah satu ulama bani Israel yang doanya mustajab selalu dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala(wow..sudah sampai level ini lho dulu imannya..). Bani Israel menggunakan doa2 mustajab Bal’am untuk memohon pada Allah. Kemudian Nabi Musa alaihissalam mengirim Bal’am untuk berdakwah ke Kerajaan Media/Madai di sekitar Palestina. Sewaktu Bal’am datang Sang Raja Media memberikannnya hadiah dan perhiasan dan membuat Bal’am berpaling dari syariat Nabi Musa dan menjadi orang fasiq(pendosa).”

 

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

 

“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit(dunia), lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.”(QS at-Taubah : 9)

 

 

2) Kisah Taubatnya Imam Fudhail bin Iyyadh rahimahullah

 

Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abi Warda, suatu tempat di daerah Khurasan. Tidak ada riwayat yang jelas tentang kapan beliau dilahirkan, hanya saja beliau pernah menyatakan usianya waktu itu telah mencapai 80 tahun, dan tidak ada gambaran yang pasti/shahih tentang permulaan kehidupan beliau.

 

Disebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata: “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat:

 

 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadiid 16)

 

Maka tatkala mendengarnya beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat)”. Maka beliaupun kembali, dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata: “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Maka beliaupun berkata: “Kemudian aku merenung dan berkata: ‘Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin di situ ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”

 

Sungguh beliau telah menghabiskan satu masa di Kufah, lalu mencatat ilmu dari ulama di negeri itu, seperti Manshur, Al-A’masy, ‘Atha’ bin As-Saaib serta Shafwan bin Salim dan juga dari ulama-ulama lainnya. Kemudian beliau menetap di Makkah. Dan adalah beliau memberi makan dirinya dan keluarganya dari hasil mengurus air di Makkah. Waktu itu beliau memiliki seekor unta yang beliau gunakan untuk mengangkut air dan menjual air tersebut guna memenuhi kebutuhan makanan beliau dan keluarganya. Beliau tidak mau menerima pemberian-pemberian dan juga hadiah-hadiah dari para raja dan pejabat lainnya, namun beliau pernah menerima pemberian dari Abdullah bin Al-Mubarak. Dan sebab dari penolakan beliau terhadap pemberian-pemberian para raja diduga karena keraguan beliau terhadap kehalalannya, sedang beliau sangat antusias agar tidak sampai memasuki perut beliau kecuali sesuatu yang halal. Beliau wafat di Makkah pada bulan Muharram tahun 187 H.

 

 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya(1). Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az Zumar 53)

 

Nota:

1). Jika bertobat dan tauhidnya benar..insya Allah

Posted in BIOGRAFI | 2 Comments »

5 tahun berjalan kaki 6000 km

Posted by Bukit Barisan pada 29 Juni 2010

Bismillah,

Subhanallah cerita yang menakjubkan dari seorang thulabul ilmi..

IMAM BAQY bin MAKHLAD  AL QURTHUBY AL ANDALUSY

Beliau adalah seorang imam, faqiih, zuhud, lagi wara’; salah satu murid Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terkemuka dari negeri Andalus.

kordoba-baghdad

dari kota Cordoba di Provinsi Andalusia, Spanyol menuju Baghdad, Iraq

Jarak perjalanan yang ditempuh selama 5 tahun kurang lebih 6000-an km

Ada satu cerita menarik dari beliau – yang pada kesempatan ini akan saya tuliskan – yaitu bagaimana perjuangan beliau untuk mendapatkan ilmu sehingga ‘memaksa’-nya menjadi seorang ‘pengemis’. Tapi jangan berpersepsi negatif dahulu sebelum membacanya.

Baca entri selengkapnya »

Posted in BIOGRAFI | Leave a Comment »

Ditahannya Matahari untuk Nabi YUSYA bin NUN (Yehovah-YHWH- Khalash/Joshua Prophet)

Posted by Bukit Barisan pada 1 Maret 2010

Bismillah,

Dikarenakan penolakan Bani Israil untuk berperang di bawah pimpinan Nabi Musa alaihissalam, lalu Allah menulis atas mereka kesesatan selama 40 tahun di gurun Sinai.

Mereka(Bani Israil) berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri(baitul maqdis) itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”(QS. Al-Maidah: 22)

مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ
“Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)

Maka hingga wafatnya Nabi Musa dan Nabi Harun Baitul Maqdis belum juga dapat dimasuki oleh Bani Israil karena pembangkangan mereka dan dihukum Allah agar mereka mengembara di Gurun Sinai selama 40 tahun.

Disebutkan pada bagian ketiga kitab Taurat bahwa Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk mengangkat 12 orang pemimpin dari 12 suku bani Israil(1) ketika waktu hukuman 40 tahun di padang pasir hampir habis. Hal ini dilakukan agar mereka bersiap untuk berperang menghadapi orang2 perkasa yang menguasai Baitul Maqdis(Yerusalem). Dalam alquran dikisahkan sbb:

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا

“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin..(QS. Al Maidah 12)

Namun dengan takdir Allah azza wa jalla, maka Nabi Musa alaihissalam dan Nabi Harun alahissalam wafat terlebih dahulu sebelum masa pengasingan Bani Israil selama 40 tahun selesai.

Baca entri selengkapnya »

Posted in BIOGRAFI | 2 Comments »

Perang AIN JALUT(Spring of Goliath) 658 H/1260 M (Qutuz n Bibris vs Mongol n Knights of Templars)

Posted by Bukit Barisan pada 12 Februari 2010

Bismillah,
The Battle of Ain Jalut (Spring of Goliath)
Quthbuddin Al Yunaini di dalam Al Bidayah Wan Nihayah(bab 658 H) mengatakan : Qutuz(sebelum menjadi raja) pernah bermimpi, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mengatakan kepadanya bahwa dia akan menguasai Mesir dan memenangkan Perang melawan Tatar(Mongol)”

Setelah jatuhnya Kekhalifahan Abbasiyah serta dihancurkannya Baghdad dan dibunuhnya hampir 800.000 atau 1.800.000 kaum muslimin hingga saksi mata mengatakan hitamnya air sungai Tigris akibat tinta buku yang luntur dari penghancuran perpustakaan terbesar di Baghdad oleh Mongol. Semua itu terjadi dalam masa 40 hari. Kemudian Bangsa Mongol di bawah Hulaghu Khan (cucu Genghis Khan dari Tolui saudara angkat Kwee Ceng:)-fiksi- dlm Legend of Condor Heroes/Sia Tiaw Eng Hiong) meneruskan penaklukan ke bumi Syam/Syria yaitu ke arah kekuasaan Kesultanan Mamluk.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Big Battle, BIOGRAFI | Dengan kaitkata: | 21 Comments »

Kisah Penaklukan KONSTANTINOPEL (1453 M) dan Terbunuhnya DRACULA (1476 M)

Posted by Bukit Barisan pada 29 Desember 2009

Bismillah

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

عن أبي قبيل قال : كنا عند عبدالله بن عمرو بن العاص وسئل : أي المدينتين تفتح أولا القسطنطينية أو رومية ؟ فدعا عبدالله بصندوق له حلق قال : فأخرج منه كتابا قال : فقال عبدالله : بينما نحن حول رسول الله صلى الله عليه و سلم نكتب إذ سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم : أي المدينتين تفتح أولا : أقسطنطينية أو رومية ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : مدينة هرقل تفتح أولا . يعني : قسطنطينية

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah?
Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/Roma?
Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.

(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim) Baca entri selengkapnya »

Posted in Big Battle, BIOGRAFI | Dengan kaitkata: | 53 Comments »

SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH (661 H – 728 H)

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Imam Adz Dzahabi berkata :“Dia lebih agung jika aku yang menyifatinya. Seandainya aku bersumpah di antara rukun-ka’bah- dan maqam maka sungguh aku akan bersumpah bahwa mataku belum pernah melihat yang semisalnya. Tidak…-Demi Allah- bahkan dia sendiri belum pernah melihat yang semisalnya dalam hal keilmuan.” (Raddul Wafir , hal. 35)

Imam Ibnu Katsir adalah muridnya, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah adalah muridnya, Imam Adz Dzahabi adalah muridnya..lantas bagaimana keilmuan Sang Guru??

 

Hal ini dalam sains mungkin seperti si A memiliki murid 1. Albert Einstein 2. Isaac Newton 3. Rene Descartes

Tafsir Ibnu Katsir yang hampir seluruh muslimin mengetahuinya
Zadul Ma’ad (kisah lengkap tentang Nabi shalllallahu alaihi wassalam) karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
Karangan Imam Adz Dzahabi tentang biografi manusia dari zaman Nabi – zaman beliau menulis

Syaikhul Islam IBNU TAIMIYYAH -rahimahullah- (1262 M – 1328 M)

Syaikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al Harani Adimasqi Al Hambali. Beliau adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya. Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, wilayah Suku Kurdi sekarang pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.


PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

AQIDAH BELIAU

Beliau tidaklah taklid terhadap seorang ulamapun meskipun madzhab fiqih beliau adalah madzhab Imam Ahmad bin Hambal(Hambali). Beliau menyandarkan diri kepada aqidah islam yang murni sesuai Alquran, Hadits dan pemahaman sahabat radhiyallahu anhum yaitu aqidatul salaf wa ashabul hadits. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam :

“(Wahai Fathimah) hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah dan bersabar, karena sesungguhnya sebaik-baik SALAF bagimu adalah aku.”
HR. Al-Bukhari, Shahih no.2450 (5/2317); Muslim, Shahih no. 2450

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan dia menisbatkan diri kepadanya serta berbangga dengan madzhab salaf, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan karena tidaklah madzhab salaf kecuali benar”.
(Majmu’ Fatawa IV:149). Ucapan Syaikh, “menisbatkan diri kepadanya” maksudnya mensibatkan diri kepada madzhab salaf, dan sebutan nisbat kepada madzhab salaf adalah salafiy.

 

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia …..” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.

Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedangnya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya pada Perang Ash Shaqab melawan Ghazan(-Cassano/Casinus-) Khan. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (ditengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Ghazan/Qazan/Cassano/Cassinus Khan Feast

Perkatan pedas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada Qazan Khan: “Anda menyatakan bahwa Anda Muslim dan Anda memiliki muadzin, Mufti, Imam dan Shaykh , tetapi Anda menyerang kami dan masuk ke negeri kami, untuk apa ini? Meskipun ayah Anda dan kakek Anda, Hulagu Khan-orang kafir-, mereka tidak menyerang kita dan mereka memenuhi janji mereka. Tapi anda berjanji dan ingkar kepada janji Anda. “

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Beliau hidup pada zaman kemunduran islam yaitu setelah kehancuran Daulah Abbasiyah akibat diserang Mongol/Tartar. Pengaruh Tartar tidak hanya pada politik dan ekonomi saja, bahkan mencakup pola pikir dan ibadah ritual masyarakat. Pada masa tersebut perbuatan bid’ah, pemikiran filsafat, dan mantiq yang menjerumuskan masyarakat sangat berpengaruh. Ibnu Taimiyah sendiri sempat mempelajari filsafat dan mantiq yang hasil akhirnya dia berkesimpulan bahwa filsafat dan mantiq tidak boleh dipelajari umat Islam. Ibnu Taimiyah adalah pejuang pena yang banyak membimbing masyarakatnya sehingga ditakuti oleh para pemimpin yang zhalim dan bangsa Tartar. Kehidupannya penuh dengan tantangan sehingga keluar masuk penjara dan bahkan diasingkan. Beliau dipenjarakan oleh Sultan Baybar II atau Baybars Jasynakir di th 1309 M di penjara Kairo

penjara-kairo

Penjara Kairo dimana Ibnu Taimiyah dipenjarakan oleh Sultan Baybar II Jasyankir th 1309 M

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah (1) di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

“Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.”

Beliau pernah berkata dalam penjara: “ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Al Jauziyyah Rahimahullah.

penjara-damaskus

Penjara Qal’ah di Damaskus tempat Ibnu taimiyah wafat di masa Sultan An nashir Muhammad bin Qal’awun

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayyah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Lebih dari 300.000 ribu penduduk yang mengiringi jenazahnya, bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh(salah satunya Akhnai) utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa.“ Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

“Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki tersebarnya suatu keutamaan, niscaya Dia akan mentakdirkan baginya dicerca oleh lisan orang yang hasud”

“Kalau sekiranya nyala api tidak dapat membakar segala apa yang berada di sampingnya, niscaya tidak akan diketahui harumnya bau kayu gaharu”

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin (nanti murid beliau Ibnu Katsir pun dikuburkan disamping Syaikhul Islam). Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh salaf, da’i, ahli perang, mujahid, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.

(Dikutip dengan perubahan yang disesuaikan dari:: Rujukan: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah–Dimasyq.)

footnote :
(1) Penjara Qal’ah di zaman Sultan Nashiruddin Muhammad bin Qal’awun(1294-1310 M), zaman ini penuh fitnah yaitu berganti2nya Sultan Dinasti Mamluk hingga Sultan Nashiruddin Muhammad menjadi Sultan hingga 4 kali. Syaikhul Islam insya Allah turut berjihad dibawah pimpinan Sultan Syaifuddin Qal’awun Al Alfi Ash Shalih (1279-1294 M).
sumber :
http://ahlulhadist.wordpress.com/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/07/al-imam-adz-dzahabi-673-784-h/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/02/ibnu-katsir-701-774-h/
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/24/syeikhul-islam-ibnu-taimiyah/
http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Nasir_Muhammad

Posted in BIOGRAFI | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »