Bukit Barisan

Sejarah Peradaban seperti Sejarah Alam yang Berulang

Posts Tagged ‘ALLAH tidak dimana2’

TAUHID : Allah tidak dimana-mana

Posted by Bukit Barisan pada 27 Januari 2009

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Tauhid sendiri ada 3 yaitu Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat.

1) Pada Tauhid Rububiyah tidak ada pertentangan antara muslimin dengan kafir Ahlul Kitab (Nashrani dan Yahudi) dan kaum musyrikin yang dimusnahkan oleh Allah dahulu kala setelah di utusnya para Rasul. Tauhid ini mengakui bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. “Allah menciptakan segala sesuatu …” (Az-Zumar: 62). Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah: Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan ter­hadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (Ibrahim: 10). Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, seperti komunis/atheis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena kesombongannya, namun diam-diam batinnya percaya, sewaktu mau mati saja ngomong Oh My God otomatis.

2) Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah ma’bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do’a kecuali Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata, pokoknya hanya Allah semata tanpa ada yang kedua baik NABI -seperti JESUS oleh Nasrani dan UZAIR oleh Yahudi-, WALI -mencari wasilah dan syafaat-, KYAI n Orang2 Shalih. Kamu tidak percaya TAHAYUL, DUKUN, RAMALAN BINTANG/ZODIAK dan KHURAFAT2 lainnya.

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (WASILAH) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS Al ISraa 57)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat/perantara kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).(QS. Yunus 10)

Pada tauhid yang kedua inilah penamaan MUKMIN & KAFIR yaitu ULUHIYAH, maka inilah yang menjadi permusuhan kita dengan orang KAFIR dan yang menyerupai mereka. Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul yang pertama hingga yang terakhir.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (An-Nahl: 36).

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selainNya.” (Al-A’raf: 59, 65, 73, 85)

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” (Al-Ankabut: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (men-jalankan) agama’.” (Az-Zumar: 11)

Ada keterkaitan yang erat antara RUBUBIYAH dan ULUHIYAH Karena itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)


3) Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat
yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil(merubah) dan ta’thil(menafikan), tanpa takyif(menanyakan bagaimana), dan tamtsil(diumpamakan/ menyerupakan),berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Dalam hal tauhid inilah banyak golongan-golongan dalam islam tersesat aqidahnya dan hal inilah yang menyebabkan perpecahan bergolong-golongan dalam islam dan hal inilah permusuhan Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah. Ahlul bid’ah tidak mau merujuk kepada ulama salaf dan perkataan para imam ahlus sunnah.

Firman Allah : ..janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”(QS Ar Ruum 31-32)

Bangga dengan apa yang ada pada mereka bukannya bangga pada islam. Cth : Sufi yang ibadahnya joged2 http://www.youtube.com/watch?v=44l-Q2WY-o4 (iya apa Nabi Muhammad ngajarkan seperti ini???), Tarekat Sufi Naqsyabandi ada amalan dan cara ibadah sendiri berupa bid’ah dan bangga dgn hal itu yang berasal dari Syaikh Naqsyabandi sehingga dikatakan pengikutnya Tarekat NAqsyabandi, kemudian Qadiriyah, kemudian, SYadziliyah, kemudian Rifa’iyah, kemudian Syattariyah, kemudian Syiah, kemudian…kemudian… Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Aqidah Imam Abul HAsan Al Asy’ari di masa tuanya setelah dia bertobat dari pemikiran Mu’tazilah tertuang dalam kitabnya AL IBANAH an Ushulid Diyanah :
//s252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/th_AL_IBANAH.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.//s252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/th_Al_Ibanah_Asyari.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Arsy a’la samawat…di atas langit (langit sendiri 7 tingkat) bukan arsy meliputi langit seperti yang di maukan mu’tazilah. Hal ini dijelaskan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Beliau juga mengatakan mengapa kita berdoa dengan mengangkat tangan ke atas/ke langit. Firman Allah :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُور
“Apakah kamu merasa aman terhadap yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu…”(Al-Mulk: 16)

Benarkah Allah itu di langit??? maka kita ambil perkataan ulama yang menerangkan alquran dan assunnah. Kita ambil ulama yang terbaik/ulama salaf yang hidup pada qurun al mufadholah(kurun terbaik 0-400 H)

Qaulu al immah al arba’a (perkataan imam 4 madzhab -Hanafi, Maliki, Syafi’i,Hambali- tentang Allah bersemayam di atas Arsy)

Mukhtashor Al Uluuw karya Al Imam Syamsuddin Adz DZAHABI Asy Syafi’i yang merupakan Imam besar madzhab Syafi’i
//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Mukhtashor_Al_Uluuw.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Imam Syafi’i bari’um minhu (berlepas diri dari mereka)

Inilah pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terutama dalam Tauhid Asma dan Sifat Allah, yaitu perkataan di dalam Mukhtashor Al Uluuw (hal ini sebagai hujjah/bukti kepada mereka-mereka yang ASBUN berbicara tanpa hujjah dan dalil untuk menetapkan DIMANA ALLAH sebagai pokok-pokok AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA”AH) :

1. Ulama Ahmad bin Nashir (lahir 231 H) di halaman 186 :

//i252.photobucket.com/albums/hh35/prama_alj/Chpter3_menit3_15_AhmadNashir.jpg” cannot be displayed, because it contains errors. Qala Ibrahim Al Harbi fima shaha anhu qala Ahmad bin Nashr : wa su’ila an ilmullah fa qala : ilmullah ma’na wa huwa a’la arsy. Wa su’ila anil qur’an fa qala kalamullah. Fa qila lahu: makhluqun? qala : LA
Berkata Ibrahim Harbi seperti yang sudah shahih oleh Ahmad bin Nashr. Berkata Ahmad bin Nashr : Ditanya tentang ilmu Allah, maka beliau berkata : ilmu Allah bermakna Allah itu di Arsy. Dan ditanya tentang Alqur’an, beliau berkata : Alquran adalah firman Allah/Kalamullah. Ditanya apakah Alquran itu makhluk?? beliau menjawab : TIDAK/LA.

Orang yang berpendapat alquran itu makhluk adalah KAFIR karena sudah 500 ulama yang memeberikan fatwa. Ini adalah pendapat JAHM bin SHAFWAN dan pengikutnya disebut JAHMIYAH. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in ISLAM | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »